Equityworld Futures Surabaya – Bank Indonesia (BI) belum menunjukan tanda-tanda akan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) meskipun tekanan publik menguat dan ruang untuk itu terbuka.

Ketidakpastian keuangan global di tengah perlambatan ekonomi China dan menjelang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika (The Federal reserve) membuat BI berhati-hati mengambil kebijakan moneter.

“Saya sudah komunikasikan dua bulan lalu kalau mempertimbangkan inflasi akan turun, current acount deficit (defisit transaksi berjalan) akan terkendali, saya katakan bahwa ada ruang pelonggaran moneter.  Cuma masalahnya kita harus menimbang faktor eksternal. Itu yang sulit diprediksi,” ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/11).

 

Perry meyakini laju inflasi pada tahun ini akan sangat rendah, yakni diperkirakan hanya sekitar 3 persen. Demikian pula dengan defisit transaksi berjalan, diprediksi akan turun persentase perbandingannya terhadap PDB. Sementara dari sisi pertumbuhan ekonomi, Dosen Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini optimistis akan meningkat pada kuartal terakhir.

“Bagaimana ke depan? Ya nanti kita lihat external dan internal factor-nya. Dan itu selalu mewarni RDG (Rapat Dewan Gubernur BI),” jelasnya.

Menurut Perry, ada beberapa instrumen kebijakan moneter yang menjadi pegangan BI dalam menjaga stabilitas makroekonomi, antara lain lewat suku bunga acuan (BI rate) dan nilai tukar. Namun, di tengah ketidakpastian saat ini BI tidak bisa sekaligus menggunakan keduanya dan harus memilih salah satu, yakni mengendalikan nilai tukar rupiah.

“Menjaga stabilitas nilai tukar lebih baik dari pada menurunkan BI rate pada saat ini,” tuturnya.

Bank sentral, lanjut Perry, ketika memutuskan untuk mempertahankan BI rate di level 7,5 persen sudah mempehitungkan dampak dari kenaikan suku bunga The Fed. BI memperkirakan The Fed akan menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (0,25 persen) pada Desember ini dan sekitar 1 persen pada tahun depan.

“Yang tidak bisa diprediksi adalah bagaimana reaksi pasar. No body can predict accurately. Emerging market itu kesulitan memprediksi reaksi pasar,” tuturnya.

 

Tak hanya faktor The Fed, lanjut Perry, perlambatan ekonomi China, spekulasi devaluasi yuan, serta kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang tidak sesuai ekspektasi pasar turut menambah ketidakpastian global.

Perry menambahkan, pelemahan mata uang akibat kondisi eksternal bukan hanya menghantam rupiah, tapi juga kurs mata uang negara berkembang lainnya.

Namun, dia melihat ada beberapa faktor positif di dalam negeri yang diyakini akan menjaga stabilitas rupiah ke depannya. Antara lain inflasi yang rendah sekitar 3 persen di tahun ini, perbaikan defisit transaksi berjalan ke kisaran 2 persen dari PDB, meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2015.

“Faktor positif ini akan memberi stimulus ke pertumbuhan dan kekuatan kepada rupiah. Saya tidak ingin mengatakan perkembangan rupiah akan tertekan terus, karena saya percaya ada faktor positif yang akan mendukung stabilitas kurs,” jelasnya. (ags)