Indeks Dow Jones berakhir turun 334,97 poin ke level 16.659,25

Indeks saham utama Amerika Serikat ditutup anjlok pada akhir perdagangan Kamis waktu New York, menghapus semua keuntungan saat rally pada perdagangan sebelumnya.

Seperti dikutip dari laman CNBC, Jumat 10 Oktober 2014, hal itu dipicu investor yang fokus pada perkembangan pertumbuhan ekonomi global, termasuk pelemahan ekonomi Eropa.

“Kami telah menambahkan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global selain risiko utama lainnya, seperti penularan virus Ebola,” ujar Sean McCarthy, Regional Chief Investment Officer Wells Fargo Private Bank.

Sebelum pembukaan Wall Street, dikeluarkan rilis data yang menunjukkan ekspor Jerman turun 5,8 persen pada Agustus, menambah suram data pesanan dan output yang juga jatuh.

“Pertumbuhan ekonomi Eropa melemah dan mendekati kondisi seperti resesi,” ujar Mark Luschini, Chief Investment Strategist Janney Montgomery Scott.

Secara terpisah, data persediaan grosir naik 0,7 persen pada Agustus, jauh di atas perkiraan pasar sebelumnya yang hanya naik 0,3 persen. Namun, investor mengabaikan data positif ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 334,97 poin (2 persen) ke level 16.659,25, dengan saham Caterpillar menjadi saham bluechip yang paling mendapatkan kerugian dari 30 komponen penyokong indeks.

Sementara itu, indeks S&P 500 kehilangan 40,68 poin (2,1 persen) ke level 1.928,21, dengan saham sektor energi yang paling terpukul dari 10 sektor penyokong indeks.

Adapun, indeks Nasdaq turun 90,26 poin (2 persen) ke level 4.378,34.

Imbal hasil (yield) treasury 10 tahun yang digunakan untuk menentukan suku bunga KPR dan kredit konsumsi turun menjadi 2,332 persen.

The CBOE Volatilitas Index (VIX), yang secara luas dianggap sebagai ukuran terbaik dari kecemasan di pasar, levelnya naik 24 persen menjadi 18,76.

Volume saham yang diperdagangkan di Bursa Efek New York hampir mencapai 896 juta unit saham dengan volume komposit mendekati 4,3 miliar unit saham. (one)

© VIVA.co.id