Equityworld Futures Surabaya – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan hampir semua perusahaan migas di dunia saat ini cukup tertekan dengan kondisi harga minyak yang mencapai level di bawah 30 dollar AS per barel, tak terkecuali Pertamina. Padahal sejumlah lapangan minyak Pertamina yang kini memasuki usia senja, seperti West Madura Offsrhore (WMO) dan Offshore North West Java (ONWJ), biaya produksi minyak mentah di hulunya di atas 30 dollar AS per barel. “Sumur-sumur minyak kita ada yang sangat berat untuk survive, karena cost production-nya ada yang di atas 30 dollar AS per barel, seperti WMO dan ONWJ,” kata Dwi ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Sementara, Pertamina dalam perencanaannya mengasumsikan harga minyak di tahun ini di level 50 dollar AS per barel. Artinya, lanjut Dwi, dengan realisasi harga minyak yang saat ini sudah menyentuh 27 dollar AS per barel, sudah terjadi penurunan harga produk minyak mentah sebesar 40 persen. “Makanya di up-stream (hulu) kita targetkan harus bisa potong biaya, minimum 30 persen,” lanjut mantan bos PT Semen Indonesia (Persero) itu.

Informasi saja, harga minyak dunia jatuh ke tingkat terendah baru dalam 12 tahun terakhir, pada perdagangan Senin (18/1/2016). Harga emas hitam ini makin tertekan, setelah sanksi-sanksi terhadap Iran dicabut, sehingga membuka jalan untuk ekspor minyak mentah lebih besar dari Republik Islam itu.

Minyak Brent sempat anjlok ke tingkat 27,67 dollar AS per barrel — tingkat yang terakhir terlihat pada November 2003. Sementara, minyak mentah New York juga mencapai titik terendah dalam lebih dari 12 tahun di 28,36 dollar AS.

 

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/01/19/191402826/Harga.Minyak.Anjlok.Pertamina.Potong.Biaya.di.Hulu