Equityworld Futures :

Efek positif tercapainya kesepakatan PMN (Penyertaan Modal Negara) ke sejumlah perusahaan BUMN dan kondusifnya bursa global terkait isu positif di Eropa akan menjadi momentum kebangkitan indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk kembali mencetak rekor baru pada perdagangan Senin, 16 Februari 2015.

Bahkan, dengan semakin derasnya aliran modal asing yang membanjiri Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin menegaskan bahwa IHSG berpotensi untuk menggapai level 5.400. Demikian pernyataan pengamat pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, kepada VIVA.co.id, Minggu 15 Februari 2015.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat 13 Februari 2015, IHSG naik 30,75 poin atau 0,58 persen ke level 5.374,17. Ini merupakan rekor terkuat sepanjang sejarah sejak pembukaan perdagangan Selasa 10 Februari 2015 lalu yang menyentuh 5.353,81.

Stefanus mengungkapkan, selain menantikan rilis kinerja keuangan emiten full year 2014, pelaku pasar juga akan mencermati RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI yang akan digelar pada hari Selasa tanggal 17 Februari 2015.

“Spekulasi atas kemungkinan BI bakal memberikan surprise pada pengumuman BI Rate, telah membuat pelaku pasar khususnya pemodal asing, melakukan aksi beli pada saham-saham perbankan yang memang masih mencatatkan kinerja positif dalam rilis laporan kinerja keuangan terakhir,” tuturnya.

Secara teknikal, katanya, IHSG akan bergerak dengan support berada di 5.348 dan resistancenya berada di level 5.404. “Indeks masih bergerak positif,” terangnya.

Rekomendasi saham

Selain itu, untuk saham-saham yang dia amati, pergerakan yang cukup positif masih terlihat pada saham-saham blue chip, seperti BBRI, BMRI, TLKM, ASII, KLBF dan UNVR. Saham-saham konstruksi, lanjutnya, masih terlihat cenderung melemah terbatas.

Dia menjelaskan, saham-saham sektor tersebut bisa dipantau jelang RDG BI. “Jika BI Rate jadi diturunkan maka ada potensi untuk rebound terbatas. Demikian juga dengan saham sektor properti yang sepertinya kenaikan lanjutan masih menunggu kepastian dari BI rate,” ungkap Stefanus.

Sedangkan rebound yang terjadi pada harga minyak dunia, Stefanus menilai, hal itu membuat saham-saham komoditas menarik untuk diperhatikan. Akumulasi pada saham sektor ini terlihat dimulai oleh ITMG dan UNTR.

Sedangkan saham ADRO dan PTBA, jelasnya, masih cenderung untuk akan mengakhiri konsolidasinya dengan bergerak menguat. “Sementara itu, saham sektor CPO masih berkonsolidasi menunggu konfirmasi pergerakan harga komoditasnya lebih lanjut,” lanjut Stefanus.

 

@viva.co.id