Equityworld Futures : Sepanjang pekan terakhir,  nilai tukar rupiah tak melemah signifikan. Pasar tak reaktif respons keputusan The Fed dan penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.  Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 17 poin (0,14%) dalam sepekan terakhir ke posisi 12.082 per 31 Oktober 2014 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 12.065 pada 24 Oktober.

Muncul kemabli spekulasi akan langkah The Fed yang masih akan mempertahankan tingkat suku bunga rendahnya setelah berakhirnya program stimulus. Mata uang Brazil kembali menguat seiring harapan akan perbaikan ekonomi Brazil setelah kembali terpilihnya Dilma Rousseff sebagai Presiden.

Menguatnya  retail sales Inggris berimbas pada terapresiasinya Poundsterling.  Semua itu memberikan sentimen positif pada laju rupiah yang berhasil terapresiasi di awal pekan.  Jelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), laju rupiah sempat tertekan. Pelemahan itu diiringi masih melemahnya Ruble Rusia seiring penilaian gagalnya program free float intervensi mata uang untuk mengatasi depresiasi. Begitu juga dengan kembali melemahnya mata uang Brazil seiring masih adanya sikap skeptik pelaku pasar terhadap upaya Presiden terpilih, Dilma Rousseff, untuk mengatasi perlambatan ekonomi Brazil.

Tidak terlalu negatifnya reaksi pasar jelang pertemuan FOMC turut membantu rupiah berbalik naik meski penguatan yang terjadi dirasa tidak terlalu signifikan. Karena itu, rupiah masih terlihat lebih rendah dari level sehari sebelumnya.