Equityworld Futures : Sepekan terakhir, nilai tukar rupiah tak kuasa menahan dominasi dolar AS akibat perbaikan perekonomian negara adidaya itu.  Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI), dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah melemah 136 poin (1,1%) ke posisi 12.432 per Jumat, (12/12) dibandingkan akhir pekan sebelumnya 5 Desember di angka 12.296.

Masih berlanjutnya pelemahan yen Jepang dan terapresiasinya dolar AS membuat laju rupiah di awal pekan kembali tertahan dan berbalik melemah.    Selain dari kondisi tersebut, lanjut dia, penilaian Bank Dunia soal perekonomian Indonesia membawa dampak buruk bagi laju rupiah.  Pelaku pasar lebih memilih masuk ke dolar AS dibandingkan rupiah yang terkena berita negatif.

Mulai berbalik naiknya nilai tukar yen dan won seiring kembali meningkatnya demand atas mata uang save heaven karena pelemahan pada pasar saham dan komoditas, turut berimbas positif pada rupiah.  Rupiah pun mampu berbalik positif meski belum terlalu signifikan karena masih bertengger di level 12.300-an.

Di sisi lain, pelemahan yuan China seiring dengan penilaian pertumbuhan nilai ekspor yang masih melambat, membatasi potensi penguatan rupiah.  Kembali berlanjutnya penguatan laju yen setelah pelaku pasar mengalihkan dananya ke aset-aset save heaven yang salah satunya adalah yen seiring pelemahan sejumlah indeks saham di Asia dan komoditas serta penilaian masih akan melambatnya ekonomi China, memberikan kesempatan bagi rupiah untuk menguat.

Selain itu, rilis International Monetary Fund (IMF) terkait masuknya yuan ke dalam urutan mata uang yang dapat digunakan sebagai cadangan devisa selain dolar AS dan Euro memberikan sentimen positif pada laju yuan.  Dengan penilaian tersebut,   pelaku pasar berasumsi permintaan akan yuan dapat meningkat.  Meski laju penguatan Yuan berimbas positif pada pergerakan laju rupiah namun, masih tertahan dengan berbalik naiknya laju dolar AS seiring kemajuan perbaikan ekonomi AS.