Equityworld Futures : Dengan masih adanya kecenderungan melemahnya laju dolar Amerika Serikat (AS),  memberikan kesempatan bagi rupiah untuk tetap berada di zona hijau pada perdagangan Senin, (6/4).  Sentimen dari berbalik naiknya laju harga minyak seiring turunnya cadangan minyak AS dan kekhawatiran gagalnya kesepakatan pembicaraan nuklir Iran serta data-data AS yang  melambat  turut mendorong mata uang negeri Paman Sam melemah.

Terlebih  faktor pemicu menguatnya rupiah juga didukung oleh kenaikan sejumlah mata uang kawasan.  Meski demikian, masih ada rilis data AS berupa klaim pengangguran yang dimungkinkan akan memberikan sentimen pada dolar AS.  Dengan demikian, rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp 12.985-Rp 13.055 per dolar AS.  Tetap  perlu dicermati dandi antisipasi jika terjadi potensi pembalikan arah.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (3/4)  berdasarkan pantauan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah tembus ke level Rp 12.995 per dolar AS. Angka ini menunjukkan, rupiah mampu menguat tipis sebesar 5 poin atau 0,04 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang menetap di level Rp 13.000.

Untuk diketahui, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, hanya menciptakan 126.000 pekerjaan baru pada bulan Maret, menandai kenaikan terkecil sejak akhir tahun 2013. Pemerintah AS juga merevisi turun angka pertumbuhan lapangan kerja dalam dua bulan pertama tahun ini, yang mengindikasikan jika pasar tenaga kerja mungkin mulai melambat.  Sebelumnya, para ekonom memperkirakan data non farm payrolls akan menunjukkan pertumbuhan 245.000 pekerjaan.