EQUITY WORLD FUTURES – Dalam dua tahun ini, Indonesia mengalami kenaikan dan penurunan indeks bisnis. Setelah indeks bisnis sempat naik pada tahun 2012 karena penundaan kenaikan harga BBM, kini indkes bisnis sedikit mengalami penurunan karena penurunan kurs rupiah terhadap dolar serta penurunan indeks kepercayaan dan kemudahahan bisnis di Indonesia oleh badan pengusaha Inggris. Kini, isu denominasi yang katanya hendak dimulai secara resmi pada tahun 2014 mencuat dan menimbulkan kecemasan.

Denominasi sendiri merupakan rencana pengubahan nilai nominal mata uang dengan cara dikurangi dua buah nolnya, namun tanpa mengubah nilainya. Misalnya, uang 10,000 rupiah akan diwakilia dengan uang bernominal sama yaitu Rp 100, namun nilai intrinsiknya tetap 10,000 rupiah. Hal ini direncanakan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan citra mata uang Indonesia di dunia internasional.

Rencana ini tentu saja menimbulkan kontroversi; selain dinilai merupakan langkah absurd untuk meningkatkan citra mata uang Indonesia di mata dunia, denominasi justru akan mengakibatkan masalah tambahan, termasuk penurunan indeks bisnis dan bahkan inflasi tak terduga. Mengapa demikian?

 

Masalah dari Proyek Denominasi

Proyek denominasi yang dicanangkan presiden SBY sudah menuai kontra sejak kali pertama rencana tersebut diumumkan. Langkah tersebut dinilai para pengamat ekonomi dan bisnis sebagai langkah absurd dalam hal peningkatan citra mata uang Indonesia di mata dunia, karena nilai tukar sejatinya tetap sama saja seperti sebelumnya walaupun nilai nominalnya di uang dikurangi dua desimal. Hal ini dinilai akan lebih membingungkan masyarakat daripada membantu.

Selain itu, proyek denominasi ini sejak awal kurang disosialisasikan kepada masyarakat; banyak masyarakat yang hidup di perkotaan yang tak mengetahui hal ini, jadi pastinya akan lebih buruk bagi masyarakat yang tinggal di daerah, kota-kota kecil dan desa-desa. Jika praktik denominasi akan benar-benar dilakukan, hal ini akan menimbulkan kekagetan dan keresahan di kalangan masyarakat, sama seperti di era Soekarno ketika kebijakan defaluasi (kebijakan pengurangan nilai yang) diberlakukan.

Dalam hal ini, kepanikan di kalangan masyarakat akan terjadi karena mereka mengira nilai uangnya berkurang (padahal tidak). Hal ini kemudian bisa menjurus pada fenomena yang berkebalikan dengan yang direncanakan pemerintah, yaitu penurunan indeks bisnis melalui inflasi.

 

Resiko Penurunan Indeks Bisnis dari Denominasi

Para ekonom mempekirakan bahwa inflasi akan menjadi skenario terburuk dari denominasi yang tidak direncanakan dengan baik dan tidak begitu sering disosialisasikan, dan hal ini akan berdampak buruk pada indeks bisnis Indonesia. Inflasi bisa terjadi ketika kepanikan masal terjadi lantaran masyarakat yang tidak diinformasikan tentang rencana denominasi lalu panik dan beramai-ramai menukar uang mereka dengan barang. Hal ini kemudian akan memacu kelebihan permintaan yang berujung pada inflasi.

Selain itu, penurunan indeks bisnis juga bisa terjadi ketika puluhan ribu perusahaan dan institusi terpaksa merombak sistem pembukuan dan pendataan keuangan mereka. Hal ini kemudian akan berdampak terhadap efisiensi kerja dan mengganggu kinerja perusahaan karena penyesuaiaan ini harus cepat dilakukan. Akibat dua peristiwa ini, indeks bisnis bisa terganggu dan tujuan awal penerapan denominasi pun menjadi bertolak belakang dengan hasilnya.

Untuk itu, para ekonom berharap bahwa pemerintah bisa menjadi lebih bijak dalam hal penerapan kebijakan keuangan yang berdampak luas seperti ini. Denominasi yang tak direncanakan dengan matang dan disosialisasikan dengan baik bisa membawa dampak buruk pada bisnis dan kondisi keuangan di Indonesia, sehingga hal ini dianggap bukan langkah yang tepat untuk meningkatkan kondisi keuangan Indonesia.