Equityworld Futures :

Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu (10/2)  pagi hingga siang, bergerak menguat sebesar 73 poin menjadi Rp 13.538 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.611 per dolar AS.  Kurs  rupiah masih mampu bergerak menguat terhadap dolar AS. Faktor positif mengenai perekonomian domestik masih menjadi alasan bagi performa rupiah yang lebih baik.  Faktor domestik yang positif itu akan menjaga nilai tukar rupiah dalam jangka menengah, namun dengan catatan harga minyak mentah tidak bergejolak yang akhirnya membuat kekhawatiran investor di pasar uang.

Capaian  penjualan mobil dan motor periode Januari 2016 saat ini sedang ditunggu kalangan pelaku pasar uang, sentimen itu bisa menjadi petunjuk tambahan mengenai prospek laju perekonomian Indonesia pada kuartal pertama 2016.  Dolar AS masih berada di bawah tekanan menantikan petunjuk dari Gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Fed) Janet Yellen mengenai arah kebijakan selanjutnya mengenai kenaikan suku bunga acuannya.

Dolar AS telah melemah terhadap sebagian besar mata uang dunia dalam beberapa hari terakhir ini, sebagian pelaku pasar uang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed tahun ini menjadi 30%.  Kalangan analis,  juga mulai memperhitungkan prospek bahwa Amerika Serikat akan mengikuti langkah bank sentral Eropa dan Jepang dalam mengadopsi tingkat suku bunga negatif jika perekonomian terus memburuk.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2-5,6% tahun ini. Pertumbuhannya lebih tinggi dari realisasi 2015.  Tahun lalu, ekonomi Indonesia tumbuh 4,79%. Realisasi tersebut ternyata merupakan yang terendah sejak enam tahun terakhir.  Pada 2009, ekonomi Indonesia cuma tumbuh 4,5% dan 2010 sebesar 6,1%. Kemudian berlanjut sampai dengan 2015, pertumbuhan masih terjadi di atas 5%.

Perlambatan ekonomi ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara juga mengalami hal yang sama. Meski demikian, perlambatan ini sudah mulai berkurang dan arah kembali ke atas 5% cukup tinggi.  Pada kuartal IV-2015 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04%. Angka ini di atas prediksi pasar yang memprediksi pertumbuhan ekonomi di periode itu hanya 4,8%.

Bank terbesar di ASEAN asal Singapura, yaitu DBS menyatakan, meski secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 turun ke 4,79% atau terendah sejak 2009, namun data di kuartal IV-2015 cukup menggembirakan.  Namun bukan berarti ekonomi Indonesia tiba-tiba naik lagi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepertinya akan berada di bawah kisaran 5% dalam kuartal selanjutnya, dan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 akan berada di 5,2%.

Pertumbuhan investasi akan menjadi faktor utama pendorong perekonomian bisa tumbuh 5%. Kemudian belanja pemerintah juga jadi faktor penting. Bila belanja pemerintah kembali rendah di awal tahun ini, maka pertumbuan ekonomi pada semester I-2016 akan berada di bawah 5%.