Equityworld Futures : Pada perdagangan Senin (9/2) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp 12.655 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 12.620 per dolar AS.  Dolar AS bergerak menguat di pasar uang global setelah data kerja Amerika Serikat mengalami peningkatan sehingga kembali mengangkat spekulasi kenaikan suku bunga pada pertengahan tahun ini.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi di 5.363,65.

Data Amerika Serikat menunjukkan kenaikan angka non-farm payroll (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja di luar pekerja pemerintahan) meningkat sebanyak 257.000 di bulan Januari, melampaui perkiraan kalangan ekonom.  Angka kerja yang solid akan mendorong outlook perekonomian the Fed menaikan suku bunga dan telah membantu menempatkan mata uang dolar AS lebih kuat terhadap mayoritas mata uang dunia.

Jika pasar tenaga kerja AS membaik, hal tersebut akan membesarkan peluang Bank Sentral AS atau the Fed tetap bertahan dalam jalur kenaikan suku bunga di bulan Juni mendatang, hal itu akan memberikan dolar AS tambahan momentum kedepannya. Sentimen di dalam negeri yang terbilang masih cukup positif masih mampu menahan rupiah tidak tertekan lebih dalam.

Di sisi lain, serangkaian kabar bagus dari dalam negeri tetang perekonomian sedang menyelimuti Indonesia seperti cadangan devisa Januari 2015 yang bertambah, inflasi ke depan diperkirakan stabil serta defisit neraca perdagangan yang mengalami perbaikan seiring dengan harga minyak dunia yang melemah.  Dalam jangka panjang,  kondisi perekonomian dalam negeri masih positif maka potensi rupiah untuk kembali naik terhadap dolar AS cukup terbuka.

Dari bursa saham, menutup perdagangan Senin (9/2), IHSG berada di posisi 5.348.47. Menguat 5,95 poin (0,11%) tetapi tidak mencetak rekor baru.  Indeks LQ45 ditutup di 926,29. Menguat 2,4 poin (0,26%).  Setelah  mencetak rekor pada Sesi I, investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) yang menarik Indeks ke bawah. Meski begitu, IHSG tidak sampai menyentuh zona merah.

Perdagangan pada Sesi I sempat semarak, tetapi cenderung moderat pada Sesi II. Sepanjang hari ini, terjadi 199.315 kali transaksi yang melibatkan 6 miliar unit saham senilai Rp 5,59 triliun. Sebanyak 136 saham menguat, 136 melemah, dan 104 stagnan. Sepanjang hari ini, dari 10 sektor saham hanya 4 yang mampu menguat. Sektor keuangan masih mampu menguat 1,02% sementara saham agrikultur banyak dilepas investor sehingga melemah sampai 2,3%.

Sejumlah saham yang terkoreksi cukup dalam dan menjadi top losers antara lain adalah Delta Djakarta (DLTA) turun Rp 10.000 menjadi Rp 315.000, Merck (MERK) turun Rp 2.500 menjadi Rp 140.000, dan Tembaga Mulia Semanan (TBMS) turun Rp 2.000 menjadi Rp 8.050.  Lalu saham-saham yang menguat dan masuk kategori top gainers di antaranya Indocement (INTP) naik Rp 525 menjadi Rp 23.975, Enseval Putra Megatrading (EPMT) naik Rp 400 menjadi Rp 3.395, dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 350 menjadi Rp 11.700.

Adapun bursa saham regional bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Meski ada yang melemah, tetapi tidak terlalu dalam.  Berikut perkembangan sejumlah bursa di Asia:  Nikkei 225 menguat 63,43 poin (0,36%) menjadi 17.711,93, Hang Seng melemah 158,39 poin (0,64%) di posisi 24.521, KOSPI terkoreksi 8,52 poin (0,44%) menjadi 1.947, dan  Shanghai Composite Index menguat 19,22 poin (0,62%) di posisi 3.095,12.