Equityworld Futures : Tempe, dari namanya tentu tidak akan asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, makanan tradisional yang menjadi khas Indonesia tersebut kini telah menembus dunia.

Berawal dari kunjungan sahabatnya yang membawakan buah tangan berupa tempe hasil olahan sendiri beserta raginya dari Paris, telah mendorong pengusaha ini untuk belajar bagaimana membuat tempe dengan menyesuaikan iklim di Eropa.

Munky AK, warga Indonesia yang tengah berdomisili di Prancis, mengatakan bahwa di Kota Toulouse ternyata tempe segar hanya ada di toko yang menjual bahan makanan organik. Akan tetapi, katanya, dijual dengan harga yang selangit, yakni sekitar 20 euro per kilogramnya.

“Ada juga seorang ibu yang tinggal jauh dari Toulouse sering membawa tempe beku yang diimpor dari Belanda. Dari situ membuat saya semakin bersemangat untuk membuat tempe sendiri,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis 5 Maret 2015.

Kerja keras dan semangatnya tidak sia-sia. Tempe buatan tangannya pun berhasil menarik perhatian beberapa teman dekatnya sehingga dia diminta untuk membuatkan tempe segar.

“Setelah itu, kabar tempe terus beredar dari mulut ke mulut. Mulai dari kalangan pelajar di komunitas ibu-ibu yang menikah dengan warga negara Prancis atau yang menetap di kota ini,” ucapnya.

Terkait dengan modal, dia enggan menceritakan secara detail. Menurutnya, modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar karena apa yang dijalaninya masih merupakan ‘bisnis rumahan’.

Dia menyampaikan, dalam pembuatannya maka dibutuhkan biji kedelai, cuka dan peralatan dapur seadanya, seperti panci besar saringan, plastik pembungkus dan lain-lain termasuk ragi tempe.

“Ragi tempe di Eropa sangat mahal. Jadi, saya menyiasatinya dengan menitipkan apabila ada teman atau kerabat yang berkunjung ke Prancis,” jelasnya.

Tantangan di Prancis

Akan tetapi, bukan berarti dirinya tak menemui tantangan dalam memasarkan produk asli Indonesia itu di Eropa.

Menurut Munky, tantangan terbesar untuk menembus pasar Prancis adalah masalah perizinan jamur atau ragi. Namun, hal itu tak membuatnya kehilangan akal.

“Karena sulit sekali mengurusnya maka saya memutuskan tidak menjualnya melalui toko-toko Asia yang ada di Toulouse. Saya melabelinya dengan embel-embel ‘homemade‘ sekaligus menginformasikan kandungan serta tanggal produksi,” ungkapnya.

Alasannya, jika dia menggunakan merek dan mencantumkan nomor kontak akan panjang urusannya apabila pihak berwenang mengetahuinya. Di sisi lain, lanjutnya, orang Prancis tidak terlalu suka tempe dan tahu, apalagi jika diolah dengan cara digoreng.

“Gaya hidup dan pola makan yang sehat membuat mereka tidak terbiasa mengonsumsi gorengan. Di sini, warganya terkenal dengan selera makanan yang tinggi sehingga tempe segar yang saya jual tidak dalam bentuk gorengan,” jelasnya.

Mengenai omzet, pengusaha wanita ini mengakui, tidak menentu jumlahnya. Ini, karena tergantung dari pesanan dan biasanya kalau musim liburan tiba maka jumlah pesanan pun menurun.

Meskipun demikian, dia bangga karena apa yang dilakukannya dapat membuat tempe semakin dikenal baik oleh orang-orang di Prancis. Hebatnya, mereka yang sudah pernah mengonsumsi tempe segar buatannya langsung menyukai cita rasa dari tempe dan memicu untuk mencarinya apabila persediaan di rumah mereka habis.

“Pernah saya usahakan lagi mencari celah untuk memperkenalkan tempe segar produksi sendiri buat pasar vegetarian lokal, tapi kembali lagi terbentur dengan masalah perizinan di Prancis. Yang jelas, ragi atau jamur yang dipakai di toko bahan organik berbeda dengan yang biasa saya pakai karena tetap mempertahankan cita rasa Indonesia,” tambah Munky.

 

viva.co.id