Equityworld Futures Surabaya – Anjloknya bursa saham Tiongkok yang sempat dihentikan perdagangannya turut mempengaruhi kinerja perusahaan dalam negeri, yang menjadi mitra dagang Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Tentu pengaruh, karena kita mitra dagang Indonesia salah satunya China. Dengan melemahnya China dapat mendorong pelemahan perusahaan yang jadi mitra dagang China,” ujar Analis LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu 9 Januari 2016.
Menurutnya, Tiongkok masih menjadi pemimpin pasar. Ketika perekonomian di negara tersebut bergejolak, otomatis berpengaruh buruk pada negara berkembang lainnya.
Akibatkannya, selama ekonomi Tiongkok mengalami turbulensi, maka indeks harga saham gabungan di pasar modal dalam negeri akan rawan koreksi dan tertekan.
Namun, kata Lucky, ada emiten Indonesia, yang secara fundamental baik, masih dapat bertahan dan bisa dijadikan rekomendasi untuk para investor dalam mengakumulasi pembelian. Seperti sektor infrastruktur, dan perbankan.
Terlebih, perusahaan infrastruktur plat merah yang tengah melakoni sejumlah proyek infrastruktur pemerintah. Seperti PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT PP Tbk, dan PT Jasa Marga Tbk.
“Pemerintah menaruh perhatian mengisi kas untuk perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang mengerjakan proyek infrastruktur,” tuturnya.
Sementara investor sebaiknya menghindari emiten sektor pertambangan seperti batu bara lantaran imbas lemahnya perekonomian Tiongkok. Bahkan kemungkinan harga tambang ekspor Tiongkok akan anjlok sepanjang tahun ini.
“Batubara dan pertambangan. Karena dalam 10 atau delapan tahun terakhir China sibuk kumpulkan batu bara dari Indonesia. Sekarang China punya tekanan, artinya dia tidak punya kemampuan optimal untuk membeli batu bara Indonesia. Itu akan memperburuk sektor tambang dan energi,” ucapnya.