Equityworld Futures :

Pasar saham saat ini terlihat positif dan terus membangun momentum dalam hari perdagangan kedua pekan ini setelah mengalami periode tekanan jual luar biasa dan agresif yang berkepanjangan selama beberapa pekan terakhir.

Menguatnya harga minyak dianggap sebagai faktor pendorong terbesar momentum positif yang terjadi di pasar saham, namun selain adanya ekspektasi bahwa bank-bank sentral akan terus melonggarkan kebijakan moneter juga berpengaruh terhadap peningkatan yang terjadi. Presiden European Central Bank (ECB), Mario Draghi, beberapa hari lalu kembali memberi isyarat bahwa bulan depan ECB dapat mengeluarkan lebih banyak langkah stimulus di Eropa, sedangkan Bank of Japan (BoJ) terus mengalami tekanan untuk bertindak lebih lanjut demi membangkitkan kembali ekonomi Jepang. Selain itu, tidak ada yang tahu pasti apa yang akan dilakukan People’s Bank of China (PBoC) selanjutnya, dan timbulnya ekspektasi tiba-tiba bahwa Federal Reserve akan menunda komitmennya untuk melakukan normalisasi kebijakan moneter juga menarik investor untuk kembali melirik pasar saham.

Harga Minyak WTI Terus Menarik Perhatian

Salah satu fokus utama pasar adalah reaksi di pasar minyak setelah menteri perminyakan dari tiga anggota komite OPEC yang berbeda sepakat untuk mempertahankan produksi minyak pada level Januari, selama anggota lain mengikutinya. Pasar sangat ragu-ragu tentang bagaimana harus menanggapi berita ini, dan sejujurnya mengingat level produksi sebagian besar penghasil minyak berada pada rekor tertinggi, ini berarti para produsen sepakat mempertahankan oversuplai agresif yang terjadi di pasar. Hal yang sebenarnya kita saksikan adalah perpajangan dari komentar tak terduga dari Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi, pada Desember tahun lalu yang menyatakan bahwa apabila ada perubahan tingkat produksi maka perubahan itu harus disepakati antara anggota komite OPEC dan non-OPEC.

Arab Saudi menjadi sorotan setelah adanya laporan yang disebarluaskan media bahwa rendahnya harga minyak ternyata tidak memengaruhi ekonomi Arab Saudi. Saya rasa setiap pembaca pasti merasa tergelitik karena ide tersebut tidak masuk akal. Intinya, kita tahu bahwa harga minyak yang merosot tajam pasti menyebabkan dampak negatif terhadap seluruh ekonomi yang mengandalkan ekspor minyak, terutama apabila kita juga memperhitungkan bahwa harga minyak telah anjlok sekitar 80 persen sejak level puncak di pertengahan 2014. Kami meyakini bahwa agar harga minyak dapat pulih secara signifikan, penurunan produksi harus disepakati dan dilaksanakan oleh seluruh negara penghasil minyak global.

Harga Emas Mengarah ke $1200

Sesuai ekspektasi, Emas mencapai level support di $1200 kemarin karena diuntungkan oleh salah satu periode pelemahan USD paling dramatis selama beberapa waktu terakhir ini. Emas kemungkinan akan melemah di bawah $1200 di sesi perdagangan selanjutnya, namun $1200 kini dianggap sebagai level psikologis penting bagi trader dan kemungkinan akan menjadi poros bagi investor untuk menentukan ke arah mana mereka ingin membawa emas di masa mendatang. Ada kecemasan tentang penurunan momentum ekonomi AS yang dapat memaksa Federal Reserve untuk sepenuhnya berbalik arah dari komitmen Fed sebelumnya untuk terus melakukan normalisasi kebijakan moneter di 2016, dan inilah alasan mengapa sebagian pihak akan tetap bersentimen positif terhadap Emas dalam jangka menengah dan mungkin panjang.

Risiko Penjualan GBPUSD Sepertinya Masih Bertahan

GBPUSD saat ini berkinerja sesuai ekspektasi dan telah memulai pekan ini dalam tekanan setelah gagal menutup perdagangan di atas level 1.4550 pekan lalu. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi ketertarikan investor akan GBP secara berkelanjutan seperti potensi pertumbuhan ekonomi yang melambat, ekspektasi suku bunga yang terus mundur, dan sejumlah pertanyaan yang belum terjawab tentang apakah referendum “Brexit” (keputusan apakah Inggris akan bertahan atau keluar dari Uni Eropa), masih mungkin digelar tahun ini. Inflasi headline ekonomi Inggris juga amat rendah sehingga pemulihan 0.3% selama 12 bulan terakhir tidak disambut dengan antusias oleh investor. Kita masih sangat jauh dari target inflasi 2 persen Bank of England dan angka inflasi Inggris yang rendah ini masih akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.

EURUSD Mencapai Support di 1.11   

EURUSD mengalami tekanan jual luar biasa setelah Presiden ECB Mario Draghi dalam konferensi publik kemarin kembali menyampaikan kemungkinan ECB melakukan pelonggaran kebijakan moneter lagi di bulan Maret. Satu-satunya alasan peningkatan EURUSD adalah kerentanan USD yang berkelanjutan, jadi saya rasa tidak banyak yang terkejut mendengar Presiden ECB mengambil peluang untuk menjadikan EUR lebih rendah kemarin. Masalah utama yang beliau hadapi adalah apabila kerentanan USD yang terjadi tiba-tiba ini menjadi semakin serius, tidak banyak langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah EURUSD menguat dan inikah alasan mengapa investor menginginkan ECB kembali melakukan Pelonggaran Kuantitatif yang agresif agar EUR berada pada level yang diharapkan bank sentral.

Yuan Melemah Walaupun PBoC Telah Bertindak

Hanya selang satu hari setelah PBoC memberi keyakinan kepada investor dengan memperkuat penetapan kurs referensi Yuan dengan nilai terbesar dalam tiga bulan terakhir, Yuan melemah di hari Selasa. Walaupun PBoC mungkin mencoba mencegah Yuan semakin melemah di jangka pendek dan Gubernur PBoC, Zhan Xiaochuan, menyatakan keyakinan akan stabilitas Yuan dan arus keluar modal dalam sebuah wawancara di akhir pekan silam, banyak yang masih meyakini bahwa tren Yuan akan tetap lemah. Alasannya adalah karena data ekonomi 2016 akan terus menampilkan bahwa pertumbuhan PDB masih tetap melambat ke arah sekitar 6% tahun ini, dan juga karena pasar mewaspadai risiko meningkatnya arus keluar modal.