Equityworld Futures : Pada perdagangan Selasa (31/3) nilai tukar rupiah bergerak stabil. Konsisi ini kemudian mendorong nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat tujuh poin menjadi Rp 13.068 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 13.075 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat hampir 1%. Sentimen positif dari Wall Street dan bursa Asia karena rencana stimulus di China mendorong optimisme pelaku pasar.  Membuka perdagangan Selasa (31/3), IHSG berada di posisi 5.490,97. Naik 52,31 poin (0,9%). Indeks unguulan LQ45 juga naik  13,29 poin (1,4%) menjadi 959,75.

Mayoritas mata uang di Asia melemah dengan rata-rata pelemahan sebesar 0,5% setelah data penjualan rumah dan belanja rumah tangga AS lebih baik, namun rupiah cukup stabil dengan kecenderungan menguat terbatas.  Diharapkan,   kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah dikeluarkan maupun yang akan dilaksanakan dapat menjaga fluktuasi rupiah sehingga berpeluang menjadi lebih baik ke depannya.  Dari Eropa, angka pengangguran serta ekspektasi inflasi di negara-negara kawasan Euro yang akan dirilis mencatatkan hasil lebih baik sehingga berdampak positif bagi pasar uang di negara-negara berkembang.

Laju rupiah masih belum kuat untuk melanjutkan penguatannya lebih tinggi dikarenakan minimnya sentimen positif, sehingga potensi untuk bergerak melemah masih terbuka. Tetap cermati dan antisipasi sentimen yang dapat menekan rupiah terhadap dolar AS. Apalagi, sentimen kenaikan suku bunga the Fed dan ketidakpastian di Yunani masih membayangi.  Data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis pada 1 April 2015 mencatatkan hasil positif sehingga mendorong mata uang rupiah kembali bergerak ke level Rp 12.000 per dolar AS.

Dari bursa saham domestik, indeks  ikut mengiringi penguatan Wal Street yang mencapai lebih dari 1%. Penyebabnya adalah gairah investor terhadap kebijakan di China.  Gubernur bank sentral China Zhou Xiaochuan menyebutkan bahwa Negeri Tirai Bambu punya ruang untuk memerangi deflasi dan perlambatan ekonomi. Pemerintah pun siap beraksi dengan meningkatkan volume perdagangan, caranya adalah mewujudkan jalur sutera modern. Hal ini menyebabkan bursa China menguat hingga menyentuh level tertinggi dalam 7 tahun terakhir.

Adapun  Wall Street, Indeks Dow Jones naik 263,65 poin (1,49%) ke 17.976,31. Indeks S&P500 juga naik 25.22 poin (1,22%) ke 2.086,24, sementara indeks Nasdaq naik 56,22 poin (1,15%) ke 4.947,44.  Bursa regional pun bergerak di ‘jalur hijau’. Berikut perkembangan sejumlah bursa saham Asia:  Nikkei 225 naik 43,63 poin (0,22%) menjadi 19.455,03, Hang Seng menguat 168,7 poin (0,68%) ke posisi 25.023,82, KOSPI naik 9,04 poin (0,46%) menjadi 2.039,08, Straits Times menguat 6,42 poin (0,19%) ke posisi 3.460,68, dan  Shanghai Composite Index melesat 47,64 poin (1,26%) menjadi 3.834,21.