Equtiyworld Futures :

Presiden Barack Obama menegaskan akan melakukan serangan udara ke lokasi ISIS yang telah menyebar dari Suriah ke Irak. AS akan bergabung dengan Uni Eropa untuk mengenakan sanksi yang lebih banyak kepada Rusia atas dukungan Moskow ke gerakan separatis di Ukraina.

FINANCEROLL – Sikap AS yang demikian ini mendorong harga minyak mentah naik dalam perdagangan tengah minggu dan membuat Indek saham S&P 500 turun sebesar 0.5 persen pada perdagangan Kamis (11/09). Harga komoditi minyak WTI naik $92.98 per barel atau naik 1.3 percent, berbalik dari penurunan sebelumnya sebesar 1.4 persen setelah AS mengumumkan sanksi baru bagi Rusia, Negara eksportir terbesar energy di dunia. Harga minyak AS turun 0.3 persen sejak 5 September yang merupakan penurunan ketujuh kalinya dalam delapan minggu ini. Harga minyak Brent tidak berubah di $98.09 per barel.

Para politisi AS di Gedung Perwakilan Rakyat dan Senat memberikan dukungan bagi langkah Washington yang akan memberikan bantuan latihan dan persenjataan bagi para pejuang-pejuang Suriah untuk memerangi ISIS. Obama telah meminta kewenangan tersebut kepada Konggres pada 10 September kemarin. Langkah AS ini adalah membantu para pejuang melawan ekstrimis Suni yang kini menyebar dari Suriah hingga ke pedalaman Irak dengan gerakan terornya.

AS juga memperdalam dan memperluas sanksi kepada sektor-sektor keuangan, industry pertahanan dan energy Rusia, sebagaimana dikatakan Presiden Obama pada Rabu (10/09) di Gedung Putih. Mengkomentari langkah AS ini, Menteri Keuangan Rusia Sergei Lavrov menyatakan AS melihat Ukraina sebagai medan untuk pertempuran geopolitik. Uni Eropa juga menyatakan akan memberikan sanksi lebih dengan melarang perusahaan-perusahaan energy dan pertahanan yang dimiliki oleh Rusia untuk menambah modal kerja di 12 negara anggota Uni Eropa.

Data Ekonomi Yang Perlu Diantisipasi

Korea Selatan akan meninjau kebijakan suku bunga pada hari ini dan Jepang akan memaparkan laporan produksi industrinya, Cina akan menerbitkan produksi pabrikannya dan penjualan ritel pada hari esok. Cina diperkirakan akan menerbitkan kebijakan baru untuk menopang dan mencapai target pertumbuhan ekonominya. Inflasi Cina berada pada posisi terendahnya dalam empat bulan ini. Hal ini bisa menjadi landasan untuk mengendurkan kebijakan moneternya. Angka produksi industry Eropa juga akan dikabarkan hari ini seiring dengan pengumuman angka penjualan ritel AS. Pihak The Federal Reserve akan meninjau kebijakan suku bunganya pada minggu depan.

Para pelaku pasar memang sidikit hati-hati dengan kondisi valuasi pasar yang naik saat ini. Pasar Saham Asia memang berjuang memanfaatkan momentum pertumbuhannya, sementara Cina masih mengalami perlambatan. Secara keseluruhan, pasar uang Asia memang mulai melambat pula.

Cina akan menyampaikan data suplai uang dan kredit pada hari Jumat (12/09) serta laporan penjualan ritel dan produksi industrinya besok. Data-data ekonomi yang terbit sebelumnya telah menunjukkan pertumbuhan harga konsumen melambat lebih lambat dari perkiraan di bulan Agustus. Sementara harga produsen menurun pula sebesar 1.2 persen, lebih besar angkanya dari perkiraan awal sebesar 1.1 persen.

Implikasi Terhadap Pasar Uang

Berbagai sanksi yang dijanjikan baik oleh AS atau Uni Eropa telah membawa dampak bagi pasar uang global. Yen Jepang berubah sedikit terhadap Dolar AS dengan diperdagangkan pada level 107.17 per dolar setelah melemah 0.2 persen di hari sebelumnya yang merupakan penurunan dalam empat sesi perdagangan secara beruntun. Sepanjang minggu ini, mata uang Jepang tersebut telah melemah sebesar 2 persen. Mengarahkan kinerja minggu ini menjadi yang paling merugi sejak Juli 2013 serta menjadi mata uang yang paling buruk diantara 10 mata uang besar lainnya setelah Dolar Australia. Yen sempat diperdagangkan pada 107.22, yang merupakan level terlemahnya sejak 22 September 2008.

Poundsterling menguat ke $1.6277 yang merupakan posisi terkuat GBPUSD sejak 5 September silam. Jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov Plc atas pembaca Times dan Sun menunjukkan dukungan bagi pemisahan Skotlandia dari Inggris Raya sebesar 48 persen sementara 52 persen masih menginginkan status quo, tidak termasuk pemilih yang belum menentukan pilihannya. Jumlah ini mengalami kenaikan tiga persen bagi pihak yang tidak menginginkan pemisahan saat YouGov melaksanakan jajak pendapat pada Sunday Times.

Bursa Saham Menurun, Komoditi Turun Kecuali Minyak

Bursa saham di Asia mengalami penurunan diawal perdagangan akhir pekan ini. Ini merupakan penurunan yang bisa mengarahkan pada jatuhnya pasar dalam empat setengah tahun ini. Harga komoditi gandum dan emas mengalami penurunan sementara harga minyak mentah naik dan bangkit dari keterpurukan pada harga termurahnya dalam delapan bulan ini. Sentimen penggerak pasar adalah spekulasi akan sanksi-sanksi baru yang dikenakan atas Rusia.

Indek MSCI Asia Pasifik, turun 0.1 persen pada Jumat (12/09) sebagai penurunan yang ketujuh dan bisa membuat kinerja minggu ini turun 1.6 persen. Indek S&P ASX juga turun 0.5 persen. Indek Seoul sendiri masih mampu naik 0.3 persen dan Indek Jepang masih fluktuasi. Bursa saham berjangka AS, Indek Standard & Poor’s 500 hanya berubah sedikit setelah pasar saham berakhir naik 0.1 persen. Sejak Januari 2010, Indek MSCI Asia Pasifik sebenarnya tidak pernah turun lebih dari tujuh hari secara beruntun.

Indek saham utama Jepang, Topix naik 0.2 persen setelah sebelumnya turun 0.1 persen. Indek ini dalam sepekan telah mencatat kenaikan sebesar 1.5 persen yang merupakan kenaikan beruntun dalam dua minggu ini.

Indek saham Hang Seng mengalami penurun sebesar 0.1 persenm dimana Indek HSI turun 2.3 persen selama seminggu ini. Minggu ini merupakan yang paling buruk kinerjanya sejak April silam.

Selain Minyak, Komoditi Turun

Harga komoditi gandum mendekati harga termurahnya sejak 2010 dan emas juga turun pada harga termurahnya dalam tujuh bulan ini. Komoditi minyak WTI mengalami kenaikan dalam dua hari ini, naik sebesar 0.2 persen. Komoditi gandum untuk kontrak pengiriman bulan Desember turun 0.5 persen ke $5.07 per bushel, sempat ke harga $5.03, harga termurahnya sejak Juli 2010. Jatuhnya harga gandum ini menyusul perkiraan pemerintah AS akan ledakan penen dan invetaris global atas komiditi kedelai hingga jagung. Kedelai untuk kontrak berjangka bulan November mengalami penurunan sebesar 0.2 persen atau turun 4.1 persen dalam lima pekan secara beruntun.

Harga emas terpelanting 0.2 persen ke $1,238.21 per ons dalam tiga hari penurunannya ini. Logam ini telah kehilangan 2.4 persen selama sepekan bahkan ke harga termurahnya di $1,235.06, harga termurahnya sejak 23 Januari silam. Perak, platinum dan paladium rata-rata turun 0.1 persen. (Lukman Hqeem | @hqeem | 7F9C937D)