Equityworld Futures Surabaya – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berlangsung. Rupiah sore ini melemah tajam, dolar AS tembus di Rp 14.100 dibandingkan posisi kemarin sore Rp 13.977.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan hal tersebut dipengaruhi oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), terkait rencana kenaikan suku bunga dan spekulasi investor terhadap yuan.

“Sebagian besar tekanan rupiah itu datang dari eksternal, kondisi di China, aktivitasnya menurun, kemudian spekulasi adanya yuan devaluasi juga terutama apa yang akan diputuskan The Fed,” ujarnya di Nusa Dua, Bali, Jumat (11/12/2015)

Perkiraan kenaikan suku bunga acuan AS adalah 25 basis point. Menurut Perry kalangan investor juga sudah memperkirakan hal tersebut.

“Karena The Fed ada cenderung kemungkinan probabilitas semakin besar untuk menaikkan 25 basis point dalam pertemuan The Fed yang akan datang,” terangnya.

Di samping itu, ada pengaruh dari kondisi di Uni Eropa atas rencana stimulus. Rencana tersebut dinilai tidak sesuai dengan espektasi pasar.

“Kondisi di Eropa, policy yang ditempuh ECB yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, kondisi itu yang itu memang memberi tekanan ke rupiah,” kata Perry.

Meski demikian, pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS juga dialami oleh mata uang lain. Seperti Brazil, Turki, India, dan lainnya.

“Kalau kita bicara nilai tukar kan relatif. Di satu sisi, dolar menguat, di sisi lain mata uang negara lain melemah, itu lah beberapa aspek yang memberi tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya rupiah tetapi semua emerging market mendapat tekanan,” tukasnya.

sumber : http://finance.detik.com/read/2015/12/11/181156/3093846/6/as-china-dan-eropa-jadi-penyebab-rupiah-melemah