Equityworld Futures : Minyak mentah berjangka beringsut turun pada sesi Rabu, karena Badan Energi Internasional (EIA) melihat pertempuran berkepanjangan antara OPEC dan Amerika Serikat (AS) untuk pangsa pasar global belum mencapai titik akhir. Komentar itu muncul pada data bulanan yang memberikan indikasi bahwa banjir pasokan global tetap konstan karena perlambatan produksi minyak mentah AS telah gagal mengimbangi peningkatan produksi OPEC serta lonjakan hasil produksi dari sejumlah pasar negara berkembang yang di luar dugaan.

Dalam laporan bulanan yang dirilis pada hari Rabu, IEA mengatakan bahwa pasokan minyak global mencapai 95,7 juta barel per hari, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Angka tersebut didorong oleh lonjakan produksi dari Irak dan Iran dan peningkatan produksi OPEC sebesar 160.000 barel per hari dari revisi kenaikan 960.000 barel per hari pada bulan Maret. Tingkat pasokan OPEC untuk April melebihi 31,2 juta barel per hari, level tertinggi sejak September 2012. Sementara itu, lonjakan tak terduga dari negara-negara lainnya telah membawa pasokan global tetap di dekat rekor tertinggi. Produksi di Rusia meningkat tajam pada bulan April dengan 185.000 barel per hari dengan basis tahun-ke-tahun, sementara hasil produksi di Brasil melonjak 17% pada kuartal pertama tahun ini. Tiongkok, Vietnam dan Malaysia juga membukukan keuntungan yang mantap, demikian menurut IEA.

Di Intercontinental Exchange (ICE), minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun $0,16 atau 0,23% ke $67,22 per barel.Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah WTI untuk pengiriman Juni naik sekitar 25 sen dolar setelah menanjak ke $61,75, sebelum jatuh di bawah $61, karena investor mengunci keuntungan mereka. WTI berjangka akhirnya ditutup di $60,45, turun $0,34 atau 0,50%.

Minyak mentah WTI masih naik lebih dari 35% sejak membuat support di $44 per barel pada pertengahan Maret karena kekhawatiran perlambatan produksi shale AS telah meredakan kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan global. Musim panas lalu, minyak mentah mencapai puncaknya pada lebih dari $100 per barel sebelum OPEC memicu penurunan harga yang tajam pada bulan November dengan keputusan untuk menjaga tingkat produksi yang konstan.

Saat ini para investor dan pelaku pasar memang sedang mengantisipasi lonjakan permintaan di musim panas tahun ini namun bayangan berlanjutnya perang antara OPEC vs AS bisa memicu sentimen negatif di pasar. Sejumlah data ekonomi AS yang juga memberi indikasi buruk bagi ekonomi negara tersebut bisa menurunkan ekspektasi permintaan tersebut. Ujungnya bisa berdampak negatif bagi harga minyak mentah, terutama WTI.

Di bursa lain, emas berjangka melonjak hampir 2%, didorong oleh data ekonomi AS yang memperkuat spekulasi penundaan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Di divisi Comex New York Mercantile Exchange, emas berjangka untuk pengiriman Juni melonjak $24,50 atau 2,05% ke $1.216,90 per troy ounce. Hari ini emas berjangka memiliki support di $1.200,70, level terendah rendah sesi 29 April dan resistance pada $1.224,50, level tertinggi tinggi sesi 6 April.

Harga emas mulai naik ke atas menyusul rilis indikator ekonomi AS yang lebih buruk dari yang diharapkan. Harga impor turun 0,3% pada bulan April, menyusul penurunan 0,2% bulan sebelumnya. Pada basis tahun-ke-tahun, harga impor telah jatuh lebih dari 10%.. Ekspektasi ekonom sebelumnya akan ada kenaikan sebesar 0,3%. Sementara itu, penjualan ritel AS tetap mendatar pada bulan April, di bawah perkiraan ekonom.Penjualan ritel pada bulan tersebut menunjukkan penurunan tajam dari 2,2%, sedangkan penjualan elektronik dan peralatan turun 0,4%. Sejak April lalu, penjualan ritel hanya naik tipis 0,9%, tingkat terendah sejak akhir tahun 2009.

Data-data tersebut memberikan sinyal tekanan inflasi saat ini tidak besar dan berpotensi membuat Federal Open Market Committee menunda kenaikan suku bunga pertama dalam hampir satu dekade yang telah ditunggu-tunggu oleh pasar global. Bulan lalu, FOMC menghapus semua ekspektasi waktu kenaikan fed funds. Sementara ini peluangnya Fed akan menunggu sampai September atau bahkan Desember sebelum menaikkan patokan fed funds yang dari tingkat saat ini yaitu 0,25%.

Emas, yang tidak memiliki dividen atau suku bunga, harus berjuang untuk bersaing dengan aset yang memberi imbal hasil tinggi di saat terjadi kenaikan suku bunga. Kini denqan data-data terakhir itu, untuk sementara emas bernafas lega karena potensi penundaan kenaikan fed funds tersebut. Harga emas juga meningkat karena terbantu oleh pelemahan dolar terhadap sejumlah rival utamanya. Karena itu hari ini data-data dari AS akan menjadi fokus perhatian para investor dan pedagang emas.