Equityworld Futures : Pada perdagangan Rabu (28/1) nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta sore melemah 22 poin menjadi Rp 12.492 dibandingkan dengan sebelumnya di posisi Rp 12.470 per dolar AS.  Kurs Rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS di tengah antisipasi hasil rapat Bank Sentral AS (the Fed) pada pekan ini.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang yang tipis seharian. Indeks berakhir melemah tipis 8 poin menyusul aksi jual investor.  Indeks hanya bertahan sebentar di zona hijau. Setelah sampai di level tertinggi 5.279,914, Indeks langsung kembali jatuh ke zona merah.

Dari internal, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga dipicu ekspektasi pasar terhadap data ekonomi Indonesia seperti inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang belum mengalami perbaikan secara signifikan.  Januari 2015 diperkirakan kembali mencatatkan inflasi meski masih relatif stabil, sementara neraca perdagangan Indonesia periode Desember 2014 juga masih defisit, kondisi itu yang masih membayangi laju Rupiah.

Sentimen negatif dari AS dan dalam negeri itu masih dapat diimbangi oleh kebijakan dari bank sentral Eropa (ECB) yang akan mengeluarkan stimulus keuangannya.  ECB yang akan melakukan quantitative easing dapat mendorong likuiditas keuangan global meningkat, negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang masih memiliki potensi pertumbuhan akan mendapatkan dampak positifnya.

Kebijakan ECB itu akan mendorong pelaku pasar keuangan masuk ke instrumen aset berisiko termasuk mata uang rupiah, sehingga potensi mata uang berlambang Garuda untuk kembali ke arah penguatan cukup terbuka.  Di sisi lain,  secara fundamental ekonomi Indonesia pada tahun ini masih cukup positif untuk mendukung penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS. Harapan pertumbuhan ekonomi domestik di level 5,7 persen pada tahun ini masih cukup kuat.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI)  pada Rabu (28/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.498 dibandingkan hari sebelumnya, Selasa (27/1) di posisi Rp 12.493 per dolar AS.

Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 6,557 poin (0,12%) ke level 5.270,592 akibat tekanan jual sejak pagi tadi. Belum ada sentimen positif yang bisa mendorong Indeks ke zona hijau.  Rentang pergerakan Indeks tipis saja, hanya sekitar 9 poin saja dari titik terendah ke tertinggi.   Pada akhir perdagangan IHSG terpangkas 8,297 poin (0,16%) ke level 5.268,852. Sementara Indeks unggulan LQ45 terkoreksi 4,404 poin (0,48%) ke level 911,694.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 424,062 miliar di seluruh pasar.

Tercatat perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 192.432 kali dengan volume 5,828 miliar lembar saham senilai Rp 5,572 triliun. Sebanyak 143 saham naik, 141 turun, dan 95 saham stagnan.  Transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) di pasar negosiasi membuat volume dan nilai transaksi hari ini menanjak. Pengalihan saham bernilai Rp 694 miliar dibantu broker CLSA Indonesia (KZ).

Sejumlah bursa di Asia berakhir mix menutup perdagangan sore ini. Pelaku pasar Asia masih dibayangi sentimen dari Yunani yang menolak program penghematan Uni Eropa.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 27,43 poin (0,15%) ke level 17.795,73, Indeks Hang Seng menguat 54,53 poin (0,22%) ke level 24.861,81, Indeks Komposit Shanghai anjlok 47,22 poin (1,41%) ke level 3.305,74, dan  Indeks Straits Times menipis 0,73 poin (0,02) ke level 3.411,47.