Equityworld Futures : Pada perdagangan Selasa (14/4) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat sebesar 41 poin menjadi Rp 12.920 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp 12.961 per dolar AS.  Setelah berfluktuasi di sepanjang perdagangan pasar valas domestik, mata uang rupiah akhirnya bergerak menguat terhadap dolar AS pada sesi sore menyusul mulai meredanya tekanan dari eksternal.  Sementara  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergerus 28 poin akibat minimnya aksi beli. Investor melepas saham dengan transaksi jual bersih senilai Rp 500 miliar.  Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG turun 8,88 poin (0,16%) ke level 5.438,53. Pelemahan Wall Street dan bursa regional ‘menular’ ke IHSG.

Sebagian mata uang di kawasan Asia cenderung berbalik arah atau menguat terhadap dolar AS termasuk rupiah, nampaknya sentimen negatif data perdagangan Tiongkok bulan Maret yang menurun mulai mereda.  Di sisi lain, Amerika Serikat  yang mencatatkan defisit pada neraca anggarannya menambah sentimen negatif bagi dolar AS sehingga rupiah mendapatkan ruang penguatan.  Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%, diapresiasi pelaku pasar uang sehingga memberi sentimen positif bagi rupiah.  Dipertahankannya BI rate menunjukkan target pemerintah menjaga inflasi 4 plus minus 1% pada 2015 dan 2016 diproyeksikan tercapai, sehingga ruang penurunan BI rate ke depannya cukup terbuka.

Dalam jangka pendek, rupiah masih berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS meski masih dibayangi sentimen kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate).   Selain itu, data neraca perdagangan yang sedianya juga akan dirilis pada pekan ini, diproyeksikan kembali mencatatkan surplus, situasi itu akan menambah sentimen positif mata uang rupiah.  Sebaliknya pada kurs tengah BI mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.979 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (13/4) pada posisi Rp 12.945 per dolar AS.

Dari bursa saham, kemarin investor masih menantikan pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Aksi jual investor asing menekan laju IHSG.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 24,458 poin (0,45%) ke level 5.422,951 akibat aksi jual investor asing. Saham-saham unggulan jadi target aksi jual ini.  Bank sentral masih menahan BI rate di kisaran 7,5%. Hal ini sudah diprediksi oleh pelaku pasar sebelumnya. Pada akhir  perdagangan IHSG terkoreksi 28,302 poin (0,52%) ke level 5.419,107. Sementara Indeks unggulan LQ45 terpangkas 8,300 poin (0,88%) ke level 940,235.  Delapan dari sepuluh indeks sektoral di lantai bursa kena koreksi akibat aksi jual. Hanya sektor perdagangan dan aneka industri yang masih bisa menguat.

Selain itu, dana asing masih mengalir keluar lantai bursa. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 502,691 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 221.584 kali dengan volume 5,222 miliar lembar saham senilai Rp 5,291 triliun. Sebanyak 77 saham naik, 223 turun, dan 81 saham stagnan.

Tercatat mayoritas bursa-bursa di Asia berakhir di zona hijau menutup perdagangan hari ini. Hanya bursa saham Hong Kong dan Indonesia yang masih negatif.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik tipis 3,22 poin (0,02%) ke level 19.908,68, Indeks Hang Seng anjlok 454,85 poin (1,62%) ke level 27.561,49, Indeks Komposit Shanghai naik 13,85 poin (0,34%) ke level 4.135,57, dan  Indeks Straits Times menguat 28,79 poin (0,83%) ke level 3.513,18.