Equityworld Futures : Libya pada Rabu menyatakan status force majeure yang terkait dengan 11 ladang minyak negara, setelah serangkaian serangan terhadap fasilitas kilang oleh kelompok radikal yang menamakan dirinya Negara Islam.

Dalam pernyataan yang dimuat di situsnya, Perusahaan minyak milik negara, National Oil Co mengatakan tidak lagi mampu menjamin keamanan di 11 kilang dan menyatakan force majeure terhadapnya. Dalam beberapa pekan terakhir, industri minyak negara Afrika Utara telah berada di situasi konflik bersenjata. Negara ini memompa sekitar 500.000 barel minyak mentah per hari, tiga kali lebih kecil dari kapasitas produksi puncaknya.

Ladang minyak Dahra, sekitar 500 kilometer (310 mil) tenggara dari Tripoli, diserang pada hari Selasa, beberapa jam setelah dua fasilitas minyak lainnya menjadi sasaran militan. Kolonel Hakim Maazab, seorang komandan penjaga minyak di daerah itu mengatakan anak buahnya telah kembali menguasai lapangan pada Rabu.

Mabruk dan Bahi, dua dari ladang minyak di tengah Libya yang telah diserang bulan lalu, diserbu kembali oleh orang-orang bersenjata tak dikenal pada hari Senin dan Selasa.