Kompetisi e-commerce Indonesia makin ramai dengan kehadiran pemain baru, Mataharimall.com. Meski berstastus sebagai pemain anyar, Mataharimall.com sudah agresif pada pasar yang sedang tumbuh di Indonesia.

Dengan di bawah bendera Grup Lippo, Mataharimall.com optimistis bermain di pasar e-commerce Indonesia yang penetrasinya masih di bawah 1 persen.

Mengawali gebrakannya, e-commerce yang masih bayi ini, diluncurkan mulai 9 Septeber 2015, sudah merilis berbagai inovasi.

Di antaranya memperkenalkan sistem online to offline (O2O) pertama kalinya di pasar Indonesia. Dengan keunggulan ekosistem yang dimiliki jaringan Lippo, Mataharimall.com pun berambisi menjadi Alibaba versi Indonesia dan ingin menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia.

VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Chief Executive Officer (CEO) Mataharimall.com, Hadi Wenas. Bertempat di kantornya yang santai, di Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu, berikut wawancara lengkapnya:

Mataharimall.com termasuk pemain baru dalam bisnis online. Kenapa baru muncul saat jumlah pemain e-commerce sudah banyak?

Menurut saya sekarang waktunya sudah tepat. Pertama, pertumbuhan e-commerce di Indonesia saat ini masih sangat kecil. Di bawah 1 persen, maksimal ada yang bilang 0,7 persen, ada yang bilang 0,1 persen. Maksimal lima tahun lagi capai 5 persen.

Sekarang, sudah ada pemain, ke depan makin banyak lagi dan perkembangannya akan lebih besar lagi, itu kenapa kita masuk.

Kedua, meskipun kita masuk yang mana sudah ada pemain lain, tapi kami percaya dengan jaringan yang dimiliki Lippo Group sebagai konglomerat layanan retail besar di Indonesia, itu kami masih punya kesempatan menang. Kalau dilihat, kita bukan hanya bawa konsep yang sama dengan yang lain, melainkan (bawa) hal-hal yang baru dan berani, misalnya online to offline (O2O), jadi orang bisa belanja online bisa ambil barangnya di toko atau di mall. Itu kan hal yang baru dan enggak semua bisa melakukannya.

Dari jaringan Lippo kita ada Matahari Departement Store, Lippo Mall, Hypermat, Siloam dan lain-lain. Dengan itu pencapaian kita ke seluruh Indonesia dari segi pelanggan dan kepercayaan itu luar biasa.

Jadi sekarang adalah waktu yang tepat. Sudah terbukti e-commerce itu ada peluangnya dan berkembang berkali-kali lipat dalam lima tahun ke depan. Plus kita punya aset yang berbeda dan menawarkan hal-hal baru dan berani bagi pelanggan e-commerce Indonesia.

Strategi yang diambil berbeda. O2O masih melibatkan offline. Sementara pemain lain online dengan efektivitasnya. Padahal pelanggan kan butuh efektivitas?

Kalau dilihat di AS, China dan Korea, itu mereka sudah offline kemudian online sekarang malah arahnya O2O. Bahkan misalnya Amazon juga melihat kesempatan untuk membuka toko offline. Terus juga Alibaba juga mau buka toko offline. Nah kita sudah O2O, sudah offline punya jaringan luncurkan online, enggak usah nunggu dulu, langsung O2O saja.

Apa yang bisa diberikan tergantung pelanggannya. Untuk yang enggak suka yang ribet, bisa langsung dikirim ke rumah. Tapi kadang kan kalau dikirim ke rumah kadang tidak bisa, mungkin pembantunya atau sopirnya sedang keluar, atau ada tapi lupa ngasih tahu bosnya kirimannya sudah sampai.

Jadi untuk segmen pelanggan seperti itu kita ada solusi O2O e-locker. Bisa ngambil kapan saja tinggal masukin PIN, bawa pulang (produk) langsung tanpa interaksi dengan siapapun.

Untuk pelanggan yang punya kendala kepercayaan. Karena buktinya kita roadshow weekend di Jaksel, Bandung masih ada orang yang belum belanja online karena faktor trust. Kita temu pelanggan di Malang yang belanjaannya banyak, kita tawari apa lebih baik kita kirim saja.

Dia malah jawabnya saya suka swipe kartu kredit. Kita bilang ‘belanja di kita juga bisa’, jawabnya, ‘saya enggak percaya (belanja online)’.

Nah, ada pelanggan yang seperti itu dan jumlahnya tidak sedikit. Dengan tawaran kita, ternyata selama Super September tangkap pasar yang baru. Bukan hanya yang sudah biasa belanja online saja, tapi juga orang baru yang enggak percaya belanja online tapi kini percaya gara-gara O2O.

Mataharimall bukan versi online dari Matahari Department Store. Bagaimana publik bisa membedakannya?

Masyarakat akan asosiasikan kami dengan Matahari Departement Store. Karena memang sengaja seperti itu, supaya dapet kepercayaanya, karena dengan Store itu satu grup, jadi kepercayaan kita dapet.

Terus pelanggan tahu, ooo… ternyata Matahari online ternyata enggak hanya jualan baju ya, dan itu terbukti selama Super September itu kami tak hanya jualan baju saja, semua kategori, ada fashion, elektronik dan lainnya. Itu (kategori) seimbang di atas 20 persen, berarti itu sehat.

Berarti kita tidak diasosiasikan Mataharimall bukan hanya jualan baju saja. Setelah buka, layout kita sengaja dilihat bukan cuma jualan baju.

Makanya kita desain logonya itu berwarna-warni. Kita tak mau dikenal sebagai perusahaan yang sudah mapan, kita perusahaan baru mudah dan coba hal-hal yang berbeda. Sejauh ini dengarkan pelanggan itu melebihi ekspektasi.

Sepanjang Mahatarimall.com hadir apa ada dampak ke
trafik kunjungan, transaksi di Matahari Departement Store?

Nggak ada. Memang ada kekhawatiran ini akan kanibalisme, dan lain-lain tapi pada kenyataanya kita bandingkan dengan perusahaan lain yang lakukan strategi yang sama di luar. Justru mereka lakukan strategi O2O, malah ada peningkatannya per pelanggan sampai empat kali lipat, karena makin dekat dengan brand tersebut.

Sudah ada Matahari Departement Store yang offline kalau online ya Mataharimall.com, ngapain ke yang lain.

Jadi itu data real-nya, soal transaksi sejauh ini normal. Malah faktanya kebalikan, malah mengembangkan.

Apalagi kalau kompetisinya banyak, sekarang kan satu-satunya yang O2O, kalau banyak saya percaya akan menambah memberikan keuntungan dan loyalitas pelanggan Matahari Departement Store dan Mataharimall.com.

Untuk bersaing dengan pemain lain, senjata apa yang diandallkan Mataharimall.com, selain modal ekosistem?

Karena marketnya masih kecil, kalau kita masuk semua masih bisa berkembang. Jadi nggak karena kami masuk, ada yang menurun.

Dan ini untuk edukasi industri baru kan nggak bisa sendirian. Mahal kan. Mendingan barengan saja. Misalnya di Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA). Di sana kami bersama-sama diskusi, semua punya kuenya masing-masing.

Senjata yang kami fokuskan itu bagaiaman kita merekrut pelanggan atau mallgowers baru yang bertransaksi di kita. Kita fokus itu saja. Kita nggak fokus itu pelanggan yang mana. Gimana caranya masyaraat siapapun mau coba berbelanja di kita. Habis mereka berbelanja, dan harapannya mereka puas.

Tantangan yang dihadapi selama ini apa?

Belum ada. Nanti pada saat berjalan pasti keluar-keluar, yang O2O belum ada tantangan khusus. Sejauh ini seputar ribet orang belanja online pertama kali, metode pembayarannya transfer bank, terus transfer dengan akun orang lain dan tak cantumkan nomor order. Kita bingung rekonsiliasinya.

Jadi orang beli Rp199 ribu, transfernya dibulatkan jadi Rp200 ribu. Itu malah bikin ribet karena nggak cocok di sistem. Itu edukasi terus kita lakukan, ada saja yang seperti itu. Nggak ada caranya untuk mencocokkan itu.

Kami sabar edukasi, kalau mau tranfer bank itu cantumkan nomor order, terus transfernya jangan lebih jangan kurang.

Terus kalau bisa yang beli dan bayar itu ya sama. Kalau titip-titipan itu yang (repot). Dari situ, semua masalah da solusinya, kita kirimkan email, complain kita jelaskan. Begitu ada nomor order saja, itu semua beres.

Complain yang masuk apa saja?

Kita paling banyak kan kita ada diskon 99 persen, jualan iPhone dengan diskon itu, dengan jumlah yang terbatas. Terus ada yang bilang kenapa cuma dikit, kurang banyak, ratusan kek. Itu normal. kenyataannya pasti banyak yang nggak dapet kan.

Dengan dukungan seller kami, produknya bagus harganya bagus dan mereka harapkan dapatkan akun 100 ribuan. Oke kalau nggak lihat barang yang lainnya, bisa transaksi yang lainnya. Dan itu terjadi.

Untuk pengiriman barang, kerja sama dengan pihak mana saja?

Di Jakarta kita kurir ada sendiri. Di luar Jakarta kerja sama dengan berbagai macam ada JNE, RPX dan lain-lain. Kalau kualitasnya fast harganya oke, kita terbuka untuk bekerja sama.

Soal pelanggan sudah gaungnya samoai ke kecamatan?

Udah. Kita e-commerce pertama yang sudah pasang billboard di Jayapura. Ada foto orang lokal dengan belakangnya billbaord kita. Kita serius untuk garap seluruh wilayah Indonesia. Jadi dalam waktu minggu ketiga ya, pada minggu pertama saja kita dapat orderan lebih dari 80 persen jumlah kota yang ada di Indonesia. Jadi 400-an lebih kota atau kabupaten.

Ini besar sekali. Karena saya pernah punya pengalaman, itu butuh waktu hampir 2 tahun untuk bisa capai ratusan kota.

Itu berarti peluang masih ada, kepercayaannya dapat. Kita bagaian dari produk yang orang percaya dengan brand Matahari, bukan brand ecek-ecek, nggak ngasal lah. Kalau kita bilang nggak suka dikembalikan, ya duitnya balik, kalau kita bilang akan dikirimkan, ya akan dikirimkan.

Soal pengiriman kalau pengen cepat itu pakai kartu kredit. Karena kan langsung verifikasi. Kalau transfer bank kan butuh waktu. Cash on Delivery (CoD) itu cepet tapi terbatas, belum ada CoD yang sampai di 500 kota.

Persentase jenis transaksinya?

Lebih dari separuhnya masih transfer bank, terus CoD dan kartu kredit. Dalam kartu kredit, kami luncurkan program baru cicilan 0 persen selama 12 bulan. Ada yang beli produk susu harga Rp4500 cicil 12 bulan. Jadi Rp375 per bulan.

Itu hits banget, jadi pembicaraan di grup e-commerce. Yang hebohnya bukan pendiri startup-nya, yang heboh itu istri-istrinya.

Sebagai pemain baru harus tampilkan punya dan program yang breakthrought, gebrakan gila-gilaan. Orang tertarik itu.

Strategi Mataharimall.com itu bikin kacau pemain lain nggak?

Belum sih. Kita harapkan agak disruptif sedikit. Tapi kami bilang kuenya masih gede, dan akan berkembang besar. Semua ada kuenya jadi kami tak khawatir.

Mungkin kesannya di kota, perang bintang ya. kalau sudah kota di luar semua masih ada kuenya. Jadi nggak khawatir sebab proyeksi growth-nya masih tinggi, pemainnya masih sedikit dibanding negara lain. Kita masuk industri saya pikir makin berkembang .

Investasi sudah US$500 juta itu untuk apa saja?

Tidak sekaligus kita habiskan. Itu kita secara bertahap kita gunakan perkembangan sistem ini. Saat ini ada beberapa hal kita fokuskan, kami cari talenta muda bagus, talenta lokal atau internasional. Kita terbuka untuk bergabung dengan kami.

Kedua untuk sistem. Kalau mau bikin serius, salah satu alasan kita dapat order puluhan ribu ya sistemnya harus kuat. Kalau sistemnya biasa-biasanya itu sudah kalah di tahap pertama.

Ketiga untuk marketing. Kita lihat mulai 9 September itu investasi pertama kalinya untuk marketing. Sebelumnnya kita pre launch, kita nggak bilang ke siapa-siapa. Mulai September kita kerja sama Facebook, Google, operator, kita mulai investasi serius di marketing. Jadi di tiga area itu.

Pemerintah sedang siapkan roadmap e-commerce. Apa yang diharapkan?

Kita berdiskusi intensif dengan pemerintah melalui idEA. Menkominfo maupun Mendag itu sudah ketemu dengan idEA mereka mendengarkan.

Yang diusulkan Mataharimall?

Kita selalu lewat idEA, sebagai saluran aspirasi pemain e-commerce. Harapannya ya e-commerce itu seperti di Brasil atau China. e-commerce bukan hanya cari profit tapi juga bisa jadi roda penggerak ekonomi bangsa. Yang kecil-kecilnya susah tadinya, harus lewati tahapan yang banyak, itu bisa buka toko di Mataharimall dan bisa jualan ke seluruh Indonesia.

Dan saat waktunya tepat, bisa jualan ke seluruh dunia. Jadi nggak lewat orang tengahnya yang banyak kan.

UKM ada berapa di sini?

Kita pisahkan. Ratusan pastinya. Sekarang sudah punya ribuan seller karena kita baru mulai.

Kita punya program khusus, tapi kita serius garap UKM. Ada komitmen. Ini investasi jangka panjang. Kan Mataharimall ingin jadi roda penggerak ekonomi bangsa, jadi ya harus serius. Kalau nggak fokus yang gede-gede, membuat yang paling kaya tapi nggak hero to hero.

Kita garap UKM supaya lahirkan cerita from zero to hero.

Soal ekonomi yang melambat, bagaimana dampaknya?

Nggak berasa. Karena masih kecil, masih terlalu kecil. Yang berasa ya masih grow-grow saja.

Sejauh ini teman-teman nggak ada yang ngomong slow down. Karena masih kecil, yang berasa itu yang sudah gajah-gajah.

Mahatarimall berambisi ingin sepeti Alibaba. Strateginya apa?

Pertama kita harus sukses. Kalau nggak ada seller, pelanggan nggak ada, transaksi nggak ada, itu ya Ali-alian.

Kita baru mulai tapi indikasinya positif, meski baru mulai kita sudah capai puluhan ribu order per hari. Terima kasihnya ke seller kami.

Untuk jadi Alibaba Indonesia, kita perlu memenangkan hati seller kami, dan pelanggan. Kedua, fokus UKM. Kalau ingin jadi Alibaba itu nggak hanya mikirin yang atas saja, tapi bagaimana caranya yang kecil. Kita garap dua hal itu dengan serius. Sukses masih jauh. Tapi indikator bagus sekali.

Alibaba kan belasan tahun, kita masih jauh.

Fokus sejauh ini di Indonesia, ada rencana untuk ekspansi ke luar Indonesia?

Belum ada. Kita fokus dulu. Karena serakah biasanya nggak dapet semua.

Fokus kita tahu kekuatan kelebihan kita, jaringan kita di Indonesia. Kita lebih tahu dengan pasar daripada pemain lain. Kita mau garap pasar Indonesia dulu. Kalau belum nyampai Indonesia belum dulu deh.

Strategi apa yang bisa ditiru dari Alibaba?

Pada sadarnya sih nggak ada yang spesifik. Tapi kami lihat pencapaiannya, figurnya, Alibaba bisa meng-online-kan pemain industri yang tadinya offline, mengglobalkan mereka.

Jadi kita merasa terinspirasi, ini kenapa di Indonesia nggak bisa seperti itu. Jadi kita mau lakukan tujuan yang sama tapi dengan cara yang berbeda, dengan cara Indonesia.

Kantor Anda asyik nuansanya. Alasannya bikin seperti ini apa?

Setiap orang di sini bisa merasa di rumah. Setiap orang baru di sini kita salamnya welcome home.

Nuansanya itu homing, terus bagian satu dengan yang lainnya kerjanya itu seperti famili.

Jadi pengen ciptakan situasi kalau satu jatuh, yang lain nolongin. Jadi seperti keluarga, ini benerin. Misalnya teknologi batuk, yang lain cover dan lainnya.

Keyword di sini ada yang sebelumnya satu jatuh dihajar, enggak kalau gitu yang lain gendong. Di sini nggak khawatir membuat kesalahan.

Budayanya kita atur bersama, bold, fast and fun. Untuk capai itu masing-masing harus bisa membuat keputusan sebisa mungkin. Kalau bisa putusin sendiri, kalau salah ya ditembak dia minta maaf dan belajar dari situ.

Kita ada beberapa bagian di corner. Ada red corner, ada blue corner dan lainnya.

Konsep rapatnya berdiri (Standing meeting), ini termasuk dalam upaya membangun budaya kerja yang santai di sini?

(Selama wawancara, VIVA.co.id diterima Hadi Wenas dengan berdiri hampir satu jam. Ruangan untuk meeting dirancang dengan meja tanpa kursi. Di ruangan ini lah Wenas mengaku rutin memimpin rapat)

Ya jadi ke sini masuk ya bukan untuk diskusi. Kalau masuk ya nyantai, ada masalah apa, solusinya apa dan langsung hasilkan keputusan. Quick. Jadi jangan lama-lama keputusannya.

Jadi tinggal voting, ambil keputusan. Cara standing ini banyak ditanyaian para partner, misalnya ada yang tanya ini mejanya beli di mana. Yang penting kalau standing gini syaratnya satu, yang penting kuat berdiri.

Ada tips untuk teman yang bangun startup?

Ada beberapa hal ya. Pertama tujuan atau masuk startup itu harus jelas. Karena ada terutama yang muda-muda itu cari popularitas, misalnya lagi cool, keren. Itu nggak berkelanjutan, itu nggak tahan lama. Karena fokusnya cari teman dan konferensi.

Selanjutnya, saya aliran keras. Saya nggak percaya dengan keberuntungan. Startup adalah soal keringat, darah dan air mata. Pokoknya nggak enak deh.

Jadi pesan saya, Anda harus go all out, itu harus sederhana. Karena kadang-kadang bisa gagal lho.

Last but not least, kadang Anda sudah bekerja keras, sudah memberikan yang terbaik tapi juga dikasih sama Tuhan atau enggak. (ren)