Equityworld Futures : Jatuhnya harga minyak mentah saat ini menjadi berkah bagi kalangan investor yang kembali memburu dengan aksi beli di lantai bursa. Data ekonomi AS yang menunjukkan kondsi ekonomi yang lebih baik, telah membangkitkan kepercayaan diri pelaku pasar, bahkan membuat Indek Dow Jones melejit hingga 180 poin.

FINANCEROLL –  Bursa saham AS menguat pada perdagangan hari Kamis setelah selama tiga hari sebelumnya mengalami penurunan, mencapai 268 poin akibat aksi jual yang terjadi di sektor energi dan minyak. Keyakinan pelaku pasar kembali setelah data-data ekonomi AS menunjukkan masa depan ekonomi yang lebih baik, meski harga minyak mentah masih menurun. Kenaikan penjualan ritel AS yang lebih baik dari perkiraan ditambah dengan klaim pengangguran yang lebih sedikit membuat pasar optimis kembali.

Ditengah jatuhnya harga minyak mentah dunia, investor melihat fundamental ekonomi AS kian menunjukkan kekokohannya. Hanya masalah waktu untuk melihat kenaikan indek bursa saham AS kembali menguat. Bagi sebagian pihak, jatuhnya harga minyak juga masih wajar mengingat terjadi pengalihan prioritas konsumsi dari energi kepada hadiah-hadiah di akhir tahun ini. Menjelang akhir tahun ini juga akan banyak manajer investasi yang akan melakukan “window Dressing” atas portofolio mereka sehingga diperkirakan akan menjadi dorongan bagi kenaikan indek harga saham di akhir tahun ini.

Data ekonomi utama yang diterbitkan menunjukkan kondisi ekonomi yang kian membaik. Tingkat Penjualan Ritel AS dibulan November mengalami kenaikan sebesar 0.7%, ini merupakan angka yang paling cepat dalam delapan bulan terakhir. Kenaikan ini didukung oleh sektor otomotif, sandang dan berbagai penjualan yang terjadi selama masa liburan diakhir tahun ini. Data lain yang dikeluarkan pemerintah hari Kamis ini juga menyebutkan bahwa klaim pengangguran AS menurun sebesar 3,000 menjadi hanya 294,000 dalam sepekan hingga 6 Desember kemarin.  Klaim ini merupakan yang paling rendah selama tiga minggu, indikasi semakin sedikitnya pemutusan hubungan kerja.

Indek S&P 500 naik begitu juga dengan Indek Dow Jones yang menguat setelah hampir semua emitennya naik. Home Depot, Inc dan JPMorgan Chase & Co adalah yang paling besar kenaikannya, Indek Nasdaq masih cukup baik dengan menguat, dimana kenaikan ini dipimpin oleh saham-saham disektor bioteknologi.

Harga emas menapaki jalur penurunan dalam dua hari ini, setelah data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan awal meskipun hal ini sudah diantisipasi investor. Harga Emas dalam perdagangan berjangka untuk kiriman bulan Februari mengalami penurunan $11.40, atau 0.9%, ke harga $1,218,00 per ons. Bursa saham AS sendiri merespon positif data ekonomi tersebut dan menguat sejak awal perdagangan. Lazimnya, kondisi ekonomi yang buruk akan membuat investor memilih berinvestasi di emas dan bursa saham mengalami penurunan. Sebaliknya, jika kondisi ekonomi membaik, bursa akan menguat dan Emas akan terkoreksi.

Angka penjualan ritel AS sebagaimana yang diungkapkan Departemen Perdagangan AS telah mengalami kenaikan yang lebih baik dari perkiraan. Alhasil daya pikat Emas sebagai alat investasidan pelindung saat inflasi mengalami peluruhan. Emas memang sudah gentar dan menurun sebelum data tersebut diterbitkan. Jatuhnya harga emas bahkan merupakan kelanjutan dari penurunan yang terjadi sebelumnya. Emas makin terpukul dengan data terkini yang  menyatakan klaim pengangguran AS lebih rendah dari perkiraan pasar. Klaim yang diajukan sebesar  294 ribu sementara perkiraan awal adalah 296 ribu.

Harga emas yang kembal terpuruk, akhiri kenaikannya dan telah menyentuh dasarnya. Meskipun harga emas diangap telah menyentuh dasar, bukan berarti akan langsung berbalik menguat kembali sebagai dampak pentalan harga, mengingat harga emas masih terbuka untuk sementara waktu berada di dasar.