Equityworld Futures

Sedekah Bumi di Muara Kaman, Kutai Kartanegara – Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah dikaruniai tanah air yang melimpah, adat, budaya, para leluhur dan pejuang bangsa, maka Paguyuban Ini Bangsaku melakukan kegiatan berupa Sedekah Bumi, Khataman Al Quran dan pemberian santunan kepada anak Yatim di Kecamatan Muara Kaman pada tanggal 15 Maret 2014. Dalam kegiatan kali ini bekerja sama dengan BPK BKPRMI Kecamatan Muara Kaman.

Kegiatan dimulai dengan pemotongan dua ekor sapi yang kemudian dagingnya dibagikan kepada yang berhak. Sedangkan bagian kepala, ruas kaki dan ekor dikembalikan kepada alam dengan cara dihanyutkan ke sungai (larung atau ngamplas) dan ditanam di tanah yang berlokasi di belakang museum Kerajaan Kutai Martadipura. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh pemangku adat setempat.

 

Siang harinya, selesai sholat dhuhur dilanjutkan dengan khataman Al Quran di masjid Muara Kaman Hilir. Kegiatan sekaligus merupakan wisuda bagi santri Taman Pendidikan Al Quran yang ada disana, dimana terdapat 26 santri yang diwisuda. Pada kesempatan ini juga dibagikan santunan kepada anak-anak yatim berupa uang dan seperangkat alat tulis beserta tas. Ditampilkan pula mengisi tauziah, juara 2 lomba da’i cilik tingkat kebupaten Kutai Kartanegara, acara ditutup dengan pembacaan surat Yaasiin dan Maulid Habsyi serta do’a bersama.
Muara Kaman adalah tempat yang penting bagi sejarah peradaban di Indonesia. Di sana terdapat situs bersejarah peninggalan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang pernah ditemukan. Situs tersebut adalah peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura, lebih dikenal dengan nama kerajaan Mulawarman. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-4, dengan rajanya yang terkenal Maharaja Mulawarman Nala Dewa. Kekuasaan Keturunan Raja Mulawarman berlanjut hingga raja ke-25 yang bernama Maharaja Derma Setia (abad ke-13) hingga kemudian ditaklukkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara.
Namun kini tempat bersejarah tersebut telah banyak dilupakan orang. Masa kejayaannya sudah lama berlalu, dan kini hanya menjadi sebuah kecamatan terpencil di tengah Pulau Kalimantan. Sejarahnya pun tak banyak diketahui orang, hingga banyak yang mengira bahwa Kutai Kartanegara yang dikenal sekarang adalah kelanjutan dari Kutai Martadipura, padahal kedua kerjaan itu adalah kerajaan yang berbeda.

Di Kalimantan Timur, Paguyuban Ini Bangsaku sebelumnya juga telah melakukan kegiatan ziarah di beberapa makam leluhur Kalimantan Timur seperti makam Raja-Raja Kutai Kartanegara baik yang di Kutai Lama maupun Tenggarong, makam Daeng Mangkona di Samarinda Seberang, makam penyebar agama Islam di di Balikpapan seperti Habib Hasyim, Syarifah Fatimah binti Al Idrus (keramat Pulau Tukung) dan makam keramat di Sungai Wain Km 15 Balikpapan.