Equityworld Futures :

Pasar di negara-negara berkembang Asia dan Afrika merajai puncak pertumbuhan tercepatnya di dunia pada 2014, diperkirakan mereka masih akan menduduki setidaknya dalam dua tahun kedepan.

Hasil jajak yang dang dilakukan oleh Bloomberg menunjukkan pertumbuhan dunia diperkirakan akan mencapai angka 3.2 persen di 2015 dan 3.17 di tahun 2016 setelah tahun dua tahun terakhir tumbuh diangka 3.3 persen. Cina, Filipina, Kenya dan India bersama-sama mencatat kontribusi PDB global sebesar 16%, dimana mereka masing-masing diperkirakan akan tumbuh diatas 5 % tahun ini.

Sebagai perbandingan saja, AS dan Inggris, yang menyumbangkan seperempat PDB global, pertumbuhannya  diperkirakan hanya akan 3,1% dan 2,6% saja tahun ini. Eropa diperkirakan hanya akan tumbuh 1,2% setelah Presiden ECB Mario Draghi setuju memberikan talangan bagi Yunani dan melakukan kebijakan kuantitatif untuk merangsang pertumbuhan regional.

Cina memang masih yang paling cepat pertumbuhannya diantara 20 negara tersebut, meskipun negara ini mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan mencapai 7,3 % di kuartal empat 2014 dibandingkan setahun silam dan di tahun 2015 ini diperkirakan bisa mencapai pertumbuhan sebesar 7 %.

Untuk melawan perlambatan yang terjadi, Bank Sentral Cina telah menjalankan kebijakan stimulus dengan memangkas suku bunga mereka pada November kemarin, ini merupakan langkah yang baru pertama kali dilakukan sejak 2012. Bulan ini, secara resmi memangkas 50 basis poin bagi rasio deposito, dimana merupakan jumlah cadangan bagi perbankan untuk dijaga.

Nigeria menjadi negara Afrika dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, diperkirakan bisa tumbuh 4,9% tahun ini. Kenya bahkan melampui pertumbuhannya dengan tumbuh 6% pada 2015, meskipun masalah pengangguran dan kemiskinan membayangi perekonomiannya. Setidaknya 40% warga Kenya memang masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan sekitar 3% di tahun ini meskipun Dolar AS melejit ke posisi tertinggi dalam 10 tahun terakhir ini. Sejalan dengan pertumbuhan ini membawa The Federal Reserve pada pilihan untuk menaikkan suku bunganya kembali, yang akan dilakukannya untuk pertama kalinya sejak 2006. Sejak Desember 2008, suku bunga utama dijalankan rendah bahkan mendekati nol persen.