Equityworld Futures : Laju IHSG pada perdagangan Jumat (10/4) diperkirakan berada pada rentang support 5.470-5.489 dan resisten 5.512-5.524.   Secara teknis, pola bullish harami bertahan di atas area middle bollinger band (MBB).  Moving Average Convergence-Divergence (MACD)masih bergerak mendatar dengan histogram positif yang lebih panjang. The Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R mencoba kembali berbalik naik.

Indeks  sempat berada di area target resisten (5.495-5.520) dan juga sempat bergerak di bawah area target support (5.455-5.468). Pelemahan yang terjadi sebelumnya dapat ditahan dengan kembali adanya aksi beli.  Diharapkan  aksi beli tersebut dapat terjadi sehingga dapat mengkonfirmasi peluang kenaikan secara teknikal. Meski masih terdapat utang gap lama di level 5.342-5.372 (17-18 Februari) dan utang gap di level 5.397-5.411 (27-28 Maret 2015) namun, sepanjang dapat diimbangi dengan aksi beli, kenaikan pun dapat kembali terjadi.

Sementara untuk sejumlah saham yang layak dipertimbnagkan, antara lain:  Saham PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) dalam kisaran support-resisten Rp 525-565. Meeting lines bertahan di area Middle Bollinger Bands (MBB). Mass index bergerak naik diikuti peningkatan The Relative Strength Index (RSI). Trading buy selama bertahan di atas Rp 550.  Saham PT Unilever Indonesia (UNVR) dalam kisaran support-resisten Rp 38.650-39.500. Bullish harami dekati Middle Bollinger Bands (MBB). William’s %R berbalik naik diiringi kenaikan MFI. Maintained buy selama bertahan di atas Rp 39.300.  Saham PT Surya Citra Media (SCMA) dalam kisaran support-resisten Rp 3.300-3.375. Hammer dekati Middle Bollinger Bands (MBB). Relative performance bergerak naik diikuti peningkatan parabolic SAR. Trading buy selama bertahan di atas Rp 3.340.

Berikutnya saham PT Bisi Internastional (BISI) dalam kisaran support-resisten Rp 1.285-1.420. White marubozu dekati upper Bollinger band (UBB). Momentum bergerak naik diiringi berbalik naiknya The Relative Strength Index (RSI). Trading buy selama bertahan di atas Rp 1.385.  Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dalam kisaran support-resisten Rp 22.800-23.250. Hammer dekati Upper Bollinger Band (UBB). The Relative Strength Index (RSI) bergerak naik diikuti kenaikan william’s %R. Trading buy selama bertahan di atas Rp 23.050.  Saham PT Astra Agro Lestari (AALI) dalam kisaran support-resisten Rp 23.775-24.200. Hammer tertahan di Middle Bollinger Bands (MBB). The Relative Strength Index (RSI) bergerak turun diikuti pelemahan parabolic SAR. Trading sell jika Rp 23.975 gagal bertahan.

Pada perdagangan Kamis (9/4), IHSG  ditutup menguat 14,316 poin (0,26%) ke angka 5.500,9.   Sepanjang perdagangan , indeks mencapai level tertingginya 5.500,9 atau menguat 14,316 poin dan mencapai level terendahnya 5.478,513 atau turun 8,071 poin.  Laju IHSG jelang akhir sesi perdagangan mampu ditutup menguat. Padahal, sebelumnya cenderung bergerak melemah seperti yang kami khawatirkan akan adanya peluang untuk kembali melanjutkan pelemahannya: Pelemahan yang terjadi membuat IHSG berhasil menutup utang gap 5.489-5.493 sehingga masih menyisakan utang gap lama di level 5.342-5.372 (17-18 Februari) dan utang gap di level 5.397-5.411 (27-28 Maret 2015).

Meski pelemahan tersebut memberikan peluang bagi IHSG untuk menutup utang gap terdekatnya, bukan tidak mungkin pelemahan dapat kembali terjadi jika aksi jual masih marak dan sentiment global yang kurang kondusif. Tetap cermati bila terjadi potensi pelemahan lanjutan.  Pada kenyataannya, IHSG mampu menghalau kekhawatiran kami hingga akhirnya mampu berbalik naik. Aksi net sell asing dapat diimbangi dengan kenaikan rupiah, masih adanya saham-saham bigcaps yang masuk dalam jajaran top gainer, peningkatan pertumbuhan retail sales, dan berbalik naiknya harga minyak mentah dunia. Investor asing berbalik melakukan nett sell (dari net buy Rp 258,12miliar menjadi net sell Rp 362,34miliar).

Mulai berbalik naiknya harga minyak mentah dunia hingga hasil Federal Open Market Committee (FOMC) minutes yang menegaskan belum akan adanya kenaikan suku bunga Fed rate dalam waktu dekat ini memberikan kesempatan bagi laju rupiah untuk dapat menguat. Penguatan terjadi di tengah mulai meredanya permintaan akan dolar AS