Equtyworld Futures : Laju IHSG pada perdagangan Senin (26/1), diperkirakan berada pada rentang support 5.265-5.300 dan resisten 5.330-5.336.  Pola White marubozu sentuh area upper bollinger band (UBB). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) mencoba bertahan naik setelah membentuk golden cross dengan histogram positif yang memanjang.

Selain itu, Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R bertahan dengan kenaikannya. Laju IHSG mampu melampaui area target resisten (5.262-5.275) dan juga mampu bertahan di atas area target support (5.200-5.236).  Maraknya sentimen positif terutama dari global mampu berimbas positif pada laju IHSG. Akan tetapi, respons positif pelaku pasar telah membuat IHSG tembus new high record dan kembali meninggalkan utang gap 5.267-5.281.

Sementara untuk beberapa saham yang layak dipertimbangkan, antara lain:  Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dalam kisaran support-resisten Rp 11.575-11.950. Morning star lewati middle Bollinger band (MBB). Stochastic bergerak naik seiring terlampauinya target resisten Rp 11.675. Trading buy selama berada di atas Rp 11.800. Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dalam kisaran support-resisten Rp 22.800-23.175. Doji star di atas lower Bollinger band (LBB). William’s %R bergerak naik diikuti peningkatan Relative Strength Index (RSI) & mulai terbatasnya volume beli. Trading sell jika Rp 22.900 gagal bertahan.   Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dalam kisaran support-resisten Rp 22.800-23.175. Doji star di atas lower Bollinger band (LBB). William’s %R bergerak naik diikuti peningkatan Relative Strength Index (RSI) & mulai terbatasnya volume beli. Trading sell jika Rp 22.900 gagal bertahan.

 Kemudian saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dalam kisaran support-resisten Rp 6.000-6.225. Shooting star di area Middle Bollinger Band (MBB). Mass index bergerak naik diikuti peningkatan MFI. Target Rp 6.100 sempat terlampaui namun, turun tipis. Trading buy selama berada di atas Rp 6.050.  Saham PT Matahari Putra Prima (MPPA) dalam kisaran support-resisten Rp 3.250-3.500. Shooting star sentuh upper Bollinger band (UBB). MFI masih bergerak naik diikuti terlampauinya target resisten Rp  3.125. Trading sell jika Rp 3.400 gagal bertahan.  Saham Soechi Lines (SOCI) dalam kisaran support-resisten Rp620-655. Gravestone doji bertahan di area Middle Bollinger Band (MBB). MFI bergerak naik diikuti peningkatan RoC. Trading buy selama berada di atas Rp 625.

Pada perdagangan Jumat (23/1)  IHSG  ditutup menguat 70,702 poin (1,35%) ke posisi 5.323,885.  Sepanjang perdagangan, indeks mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) di level 5.325,0,39 atau menguat 71,856 poin dan mencapai level terlemahnya 5.281,183 atau menguat 28 poin.

Laju IHSG masih dapat berjalan sesuai skenario dan harapan kami di mana mampu bergerak positif. Bahkan pegerakan tersebut juga mampu melampaui estimasi kami sebelumnya. Dalam ulasan sebelumnya kami sampaikan, masih adanya sentimen positif tentunya akan dapat membawa IHSG bertahan di zona hijaunya.  Tetapi, seperti biasanya dapat mengalami perlambatan seiring dengan adanya pelaku pasar yang mencoba profit taking. Untuk itu, meski kami masih mengharapkan IHSG dapat kembali bertahan di teritori positif namun, tetap cermati potensi perubahan yang ada. Kekhawatiran kami akan terjadinya perlambatan mampu ditepis oleh IHSG yang mampu bertahan di teritori positif meski sempat turun tipis.

Berlanjutnya penguatan rupiah, imbas positif bursa saham Asia, hingga asing yang kembali melakukan aksi beli mendukung laju IHSG bergerak positif. Di sisi lain, sentimen negatif dari permasalahan terkait kasus hukum KPK tidak terlalu mempengaruhi laju IHSG. Adapun transaksi asing tercatat nett buy (dari net sell Rp 249,24 miliar menjadi net buy Rp1,62 miliar).   Meski laju Euro terus menunjukkan pelemahan, rupiah juga tidak terpengaruh untuk ikut melemah. Sentimen dari kenaikan kucuran stimulus European Central Bank (ECB) sebesar € 60 miliar (US$69 miliar) dari rencana awal sebesar € 50 miliar dan jelang pemilu Yunani menjadi penyebab melemahnya Euro.