Equityworld Futures : Pergerakan IHSG pada Rabu (21/1) diprediksi berada pada rentang support 5.118-5.145 dan resisten 5.172-5.186. Pola  Hammer bertahan di atas area lower bollinger band (LBB). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) masih melanjutkan penurunan namun, dengan histogram negatif yang mendatar.

Sementara Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R mencoba kembali bertahan dari penurunan. Laju IHSG hampir mendekati area target resisten (5.168-5.186) dan juga sempat berada di bawah area target support (5.128-5.147).

Laju penguatan IHSG yang terlihat masih galau untuk bergerak naik memberikan posisi yang cukup rentan jika terjadi pembalikan arah turun. Akan tetapi, kami berharap masih ada peluang bagi IHSG untuk melanjutkan penguatan dengan asumsi didukung oleh laju bursa saham global yang dapat bergerak di zona hijau.

Sedangkan untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain: Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dalam kisaran support-resisten Rp 21.750-22.525. Hammer di area LBB. Volume beli mencoba meningkat. William’s %R bergerak naik. Akumulasi beli jika mampu bertahan di atas Rp 22.300.  Saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA) dalam kisaran support-resisten Rp 10.075-11.000. Hammer di area LBB. Parabollic SAR mulai tertahan penurunannya diiringi peningkatan stochastic. Bottom fishing, akumulasi beli jika bertahan di atas Rp 10.700.   Saham PT Vale Indonesia (INCO) dalam kisaran support-resisten Rp 3.395-3.625. White marubozu dekati Middle Bollinger Band (MBB). Volume beli masih meningkat. Target resisten Rp 3.420 terlampaui diikuti peningkatan Relative Strength Index (RSI). Akumulasi beli selama bertahan di atas Rp 3.480 per saham.

Berikutnya saham PT Bank Pembangunan Jawa Timur (BJTM) dalam kisaran support-resisten Rp 495-530. Spinning di bawah upper Bollinger band (UBB). William’s %R bergerak naik diiringi peningkatan Moving Average Convergence-Divergence (MACD). Trading buy selama berada di atas Rp 505.   Saham PT Global Mediacom (BMTR) dalam kisaran support-resisten Rp 1.860-1.985. Shooting star dekati UBB. Target resisten Rp 1.900 terlampaui diikuti kenaikan parabolic SAR. Trading buy selama berada di atas Rp 1.890.  Saham PT Surya Citra Media (SCMA) dalam kisaran support-resisten Rp 3.295-3.500. White marubozu lewati middle Bollinger band (MBB ). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) mencoba golden cross diiringi peningkatan momentum. Trading buy selama berada di atas Rp 3.425.

Pada perdagangan Selasa (20/1), IHSG  ditutup menguat 13,997 poin (0,27%) ke posisi 5.166,090.  Sepanjang perdagangan, indeks melaju variatif dan lebih banyak menghabiskan waktu di zona merah. Indeks mencapai level tertingginya di posisi penutupan 5.166,090 atau menguat 13,997 poin dan mencapai level terlemahnya 5.121,815 atau sempat turun 30,278 poin.

Masih maraknya aksi jual membuat laju IHSG terlihat tertahan meskipun dapat bertahan positif. Penguatan yang terjadi belum terlihat terlalu signifikan seiring masih minimnya sentimen. Belum lagi laju rupiah yang masih betah di zona merah dan asing yang juga masih belum beranjak dari aksi jualnya turut menahan penguatan IHSG.

Hingga penutupan kemarin (Selasa (20/1) asing secara total year to date, telah jualan sebanyak Rp 1,84 triliun. Laju IHSG pun, dapat bergerak sesuai skenario kami di mana, melihat dari pembentukan pola seharusnya mengindikasikan adanya potensi kenaikan kembali namun, belum cukup kuatnya sentimen yang ada dapat membuat laju IHSG kembali variatif yang disertai pelemahan sesaat kembali.

Diharapkan kondisi global tidak terlalu negatif sehingga dapat memberikan sentimen penguatan pada IHSG. Good news-nya, masih adanya perlawanan beli terhadap beberapa saham-saham pertambangan yang memiliki kapitalisasi pasar cukup besar dan masuk dalam top gainer yang juga disertai dengan penguatan saham-saham perdagangan mampu mempertahankan laju IHSG di zona hijaunya.

Begitupun dengan positifnya laju bursa saham Asia turut mendukung penguatan IHSG. Adapun transaksi asing tercatat nett sell (dari net sell Rp705,79 miliar menjadi net sell Rp337,63 miliar).   Meski nilai tukar yuan menguat pasca merespons kenaikan data Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan  China namun, tidak diikuti oleh rupiah yang masih betah di zona merah. Tampaknya rilis GDP tersebut secara tidak langsung membuat laju Yen mengalami pelemahan terhadap dolar AS.