Equityworld Futures : Laju IHSG pada perdagangan Senin (2/3) diperkirakan berada pada rentang support 5.426-5.436 dan resisten 5.458-5.466.   Secara teknis pola Doji star sentuh area upper bollinger band (UBB). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) masih bergerak naik meski tipis dengan histogram positif yang sedikit lebih pendek.  Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R mulai terbatas kenaikannnya. Laju IHSG mampu berada di area target resisten (5.457-5.470) dan juga sempat berada di area target support (5.425-5.443).

Selain itu, sinyal pelemahan mulai muncul seiring dengan mulai maraknya aksi-aksi profit taking terutama dari investor lokal. Jika kondisi ini berlanjut, akan menganggu potensi penguatan pada IHSG. Apalagi IHSG juga masih meninggalkan utang gap 5.342-5.372.  Untuk itu, tetap mewaspadai adanya potensi pembalikan arah.

Adapun untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain:   Saham PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA) dalam kisaran support-resisten Rp 10.375-10.750. Bullish engulfing dekati middle bollinger band (MBB). Stochastic berbalik naik diikuti peningkatan MFI. Trading buy selama bertahan di atas Rp 10.600.   Saham PT Ciputra Surya (CTRS) dalam kisaran support-resisten Rp 2.930-3.125. Morning doji star dekati UBB. Target resisten Rp 3.000 terlampaui. MFI bergerak naik diiiringi peningkatan volatility. Trading buy selama bertahan di atas Rp 3.020.  Saham PT Bank Mandiri (BMRI) dalam kisaran support-resisten Rp 11.750-12.150. Morning star lewati Middle Bollinger Band (MBB). Mass index mencoba berbalik naik diikuti peningkatan parabollic SAR. Trading buy selama bertahan di atas Rp 11.950.

Berikutnya saham PT Lippo Cikarang (LPCK) dalam kisaran support-resisten Rp 11.700-12.000. Hanging man dekati UBB. Target Rp 11.900 terlampaui. Meski MFI turun namun, RSI dan william’s %R bergerak naik. Trading buy selama bertahan di atas Rp 11.900.   Saham PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) dalam kisaran support-resisten Rp 1.920-2.010. Shooting star dekati UBB. Volume beli naik diikuti peningkatan parabollic SAR. Trading buy selama bertahan di atas Rp 1.975.   Saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dalam kisaran support-resisten Rp 6.775-7.000. Bearish engulfish cross menuju Middle Bollinger Band (MBB). Relative Strength Index (RSI) bergerak turun diiringi penurunan william’s %R. Trading sell jika Rp 6.800 gagal bertahan.

Pada perdagangan Jumat (27/2), IHSG  ditutup melemah tipis 1,128 poin (0,02%) ke posisi 5.450,294.  Koreksi tipis tersebut setelah sepanjang perdagangan indeks mencapai level tertingginya sepanjang sejarah BEI  di 5.464,219 atau menguat 12,797 poin akhir pekan ini. Di sisi lain, indeks mencapai level terlemahnya 5.441,139 atau turun 10,283 poin.

IHSG di akhir pekan mengakhiri lajunya di zona merah setelah sempat bertengger di zona hijau di awal perdagangan. Tampaknya aksi profit taking masih mewarnai laju IHSG sehingga hanya bergerak flat cenderung melemah.  Hal itu seiring dengan imbas berbalik melemahnya laju bursa global dan beberapa di Asia serta penurunan tipis rupiah. Himbauan untuk mewaspadai adanya potensi pembalikan arah telah kami sampaikan dalam ulasan sebelumnya.

Tidak jauh berbeda dari pergerakan laju IHSG sebelumnya di mana masih adanya aksi beli membuat laju IHSG masih meninggalkan utang gap 5.342-5.372. Laju IHSG pun akan bergantung dari respons pasar terhadap rilis data-data AS dan Eropa yang akan berimbas pada laju bursa saham Asia dan juga IHSG nantinya. Namun demikian tetap mewaspadai adanya potensi pembalikan arah.

Sempat adanya aksi beli, terutama dari investor asing mampu kembali membuat IHSG menyentuh level tertinggi terbarunya di level 5.464,22. Sebelumnya, setelah berhasil melampaui rekor tertinggi di minggu ketiga Februari di level 5.427 dan dilanjutkan new high record di 5.448,70 pada Rabu (25/2), dan pada Kamis (26/2) sempat menyentuh level tertinggi terbarunya di level 5.459,49. Adapun investor asing kembali mencatatkan nett buy (dari net buy Rp 1,24 triliun menjadi net buy Rp 211,21 miliar).