Equityworld Futures : Untuk perdagangan Rabu (29/4/), laju IHSG diperkirakan berada pada rentang support 5.150-5.172 dan resisten 5.252-5.264.   Secara teknis, meeting lines masih di bawah area lower bollinger band (LBB).  Moving Average Convergence-Divergence (MACD)masih turun dengan histogram negatifyang lebih panjang. Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R mencoba berbalik naik.

IHSG gagal mendekati area target resisten (5.251-5.284)dan juga sempat jauh di bawah area target support (5.217-5.220)namun, mampu berakhir di atas target support tersebut.  Laju IHSG terlihat mencoba berbalik naik seiring dengan mulai adanya aksi beli meskipun belum terlalu besar.

Meski aksi beli mulai terlihat namun, posisinya belum cukup kuat sehingga IHSG pun masih menyimpan potensi pelemahan. Apalagi ternyata IHSG masih menyimpan utang gap di 5.069-5.076 dan 5.113-5.125 dan imbas dari pelemahan rupiah jelang pertemuan The Fed. Meski kami berharap untuk rebound namun demikian, tetap cermati rilis sentimen-sentimen.

Sementara untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain:  Saham PT Unilever Indonesia (UNVR) dalam kisaran support-resisten Rp 41.200-45.000. Hammer sentuh upper Bollinger band (UBB). Target resisten Rp 42.650 terlampaui diikuti peningkatan william’s %R. Trading buy selama bertahan di atas Rp 44.400.  Saham PT Unilever Indonesia (UNVR) dalam kisaran support-resisten Rp 41.200-45.000. Hammer sentuh upper Bollinger band (UBB). Target resisten Rp 42.650 terlampaui diikuti peningkatan william’s %R. Trading buy selama bertahan di atas Rp 44.400.  Saham PT Bank Jabar Banten (BJBR) dalam kisaran support-resisten Rp 850-925. Long legged doji bertahan di atas Lower Bollinger Band (LBB). Relative Strength Index (RSI) berbalik naik diikuti kenaikan MFI. Trading buy selama bertahan di atas Rp 865.

Berikutnya saham PT Global Mediacom (BMTR) dalam kisaran support-resisten Rp 1.530-1.700. Bullish engulfing sentuh middle Bollinger band (MBB). Stochastic bergerak naik diiringi peningkatan parabolic SAR. Trading buy selama bertahan di atas Rp 1.630.  Saham PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dalam kisaran support-resisten Rp 1.075-1.190. Bullish harami di area Lower Bollinger Band (LBB). Mass index mencoba berbalik naik diikuti peningkatan %relative performance. Accumulated buy selama bertahan di atas Rp 1.100.

Saham PT Astra Agro Lestari (AALI) dalam kisaran support-resisten Rp 19.500-20.500. Meeting lines di area Lower Bollinger Band (LBB). William’s %R berbalik naik diiringi peningkatan Relative Strength Index (RSI).  Accumulated buy selama bertahan di atas Rp 20.250.   Saham PT Elnusa (ELSA) dalam kisaran support-resisten Rp 550-610. Separating lines dekati Middle Bollinger Band (MBB). Relative Strength Index (RSI) berbalik naik diikuti peningkatan mass index. Trading buy selama bertahan di atas Rp 575.

Pada perdagangan Selasa (28/4), IHSG  ditutup turun 3,289 poin (0,06%) ke posisi 5.242,157.  Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya di 5.242,157 atau turun 3,289 poin dan mencapai level terendahnya 5.164,741 atau turun 80,705 poin.  Laju IHSG tampaknya belum beranjak dari zona merah seiring masih berlanjutnya aksi jual yang menekan pergerakan IHSG. Berbalik melemahnya laju bursa saham AS berimbas negatif pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG yang tidak mampu melepaskan diri dari tekanan jual.

Aksi panic selling membawa IHSG terpuruk  ke zona merah dan mengembalikan posisinya ke periode Januari 2015. Di sisi lain, pelemahan yang terjadi telah menutup lunas utang gap 5342-5372. Dengan demikian, jika kondisi ini dibarengi dengan membaiknya laju bursa saham global dan berkurangnya aksi jual maka posisi IHSG pun memberikan peluang yang bagus untuk rebound. Namun demikian, tetap cermati masih adanya potensi pelemahan. 

Di sisi lain, meski laju rupiah masih di zona merah, negatifnya laju bursa saham Asia, dan posisi asing yang masih jualan namun, dapat diimbanginya dengan mulai adanya aksi beli sehingga membuat IHSG mampu berbalik naik di akhir sesi meski belum sampai ke teritori positif.Investor asing kembali catatkan nett sell (dari net sell Rp 2,24 trilun menjadi net sell Rp 1,82 trilun).