Equityworld Futures :

Dalam perdagangan di COMEX, NYMEX – harga emas sempat turun ke $1.191,50 per ons, dan diperdagangkan di $1.213,40. Sebelumnya, tidak ada harga penutupan pada perdagangan hari Senin, karena Libur nasional Hari Presiden di AS.  Harga emas pada pekan lalu sempat naik hingga ke $1.263,90 per ons, harga termahal di tahun ini. Dipicu oleh aksi safe haven yang dilakukan oleh investor yang khawatir dengan kondisi ekonomi global. Minggu lalu, tercatat sebagai kinerja perdagangan emas terbaik untuk sepekan sejak Desember 2008.

Saat ini, harga emas memperoleh angin buritan dari berbagai indikasi ekonomi dan keuangan global yang mengkhawatirkan, alhasil The Federal Reserve menunjukkan gelagat keberatan mereka untuk menaikkan suku bunga kembali di tahun ini. Tentu saja ini menjadi peluang bagi pelaku pasar untuk kembali memburu emas setelah sebelumnya diacuhkan. Pasar mencoba untuk menangkap peluang yang bisa diambil sebelum The FED menaikkan suku bunga, setidaknya diperkirakan akan dilakukan empat kali ditahun ini. Setiap potensi yang mengarah pada kenaikan suku bunga AS, akan menjadi sentimen negatif bagi harga emas.

Tahun ini saja, harga emas telah naik hampir 13% setelah investor kembali melakukan risk aversion, melepas posisi mereka di bursa saham dan kembali ke emas sebagai aset pengaman investasi. Ketidak stabilan pasar keuangan memberikan kesempatan untuk menarik keuntungan dipasar emas. Selain emas, dalam perdagangan di Comex, harga Perak berjangka untuk pengiriman bulan Maret masih turun 36,5 sen atau 2,31%, ke harga $15,43 per ons. Sementara harga tembaga justru melonjak 2%, atas ekspektasi adanya kebijakan stimulus lanjutan dari berbagai bank-bank sentral di Eropa dan Asia.

Sentimen yang mempengaruhi pasar pada perdagangan Selasa (16/02/2016) dan diperkirakan masih akan mempengaruhi pergerakan harga di hari ini adalah (1). Kesepakatan antara Arab Saudi dan Rusia yang setuju untuk membekukan produksi minyak. Kesepakatan ini sebagai hasil pertemuan antara Menteri Perminyakan dari Arab Saudi, Rusia, Qatar, dan Venezuela di Doha kemarin yang menghasilkan kesepakatan untuk membekukan produksi, namun tidak memangkas produksi mereka. Menteri Energi Qatar Mohammad bin Saleh al-Sada menyatakan bahwa negaranya setuju untuk membekukan produksi mereka pada tingkat yang sama seperti bulan Januari bersama-sama dengan Arab Saudi, Rusia dan Venezuela. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan fluktuasi di pasar minyak global. Kesepakatan ini dianggap masih kurang untuk membawa harga minyak naik, pasalnya para pemain besar seperti Irak dan Iran tidak terlibat didalamnya. Menjelang hasil kesepakatan ini diumumkan, harga minyak naik lebih dari 6% atas harapan akan tercapainya kesepakatan untuk memangkas produksi. Harga minyak mentah WTI akhirnya diperdagangkan pada harga $29,88 per barel sementara minyak Brent naik 72 sen atau naik 2,14%, ke $34,11.

(2). Risk appetite tertahan setelah kenaikan harga minyak mentah juga tertahan. Bursa saham Eropa turun pada perdagangan hari Selasa, meskipun Yen dan Euro menguat atas Dolar AS.  (3). Indek sentimen ekonomi ZEW Jerman turun ke posisi terendah dalam 16 bulan ini dibulan Februari. Hal ini sebagai dampak fluktuasi di pasar uang dan harapan akan kondisi ekonomi global yang buram. Indikator ZEW untuk bulan ini turun ke 1,0 dari sebelumnya di 10,2 pada bulan Januari. Angka ini lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan bisa jatuh 3,2. (4). Inflasi Inggris naik 0,3% pada bulan Januari, tertinggi dalam setahun terakhir ini. Mengindikasikan potensi kenaikan harga konsumen dari posisi termurahnya di tahun 2015. Kenaikan inflasi pada bulan Januari tersebut sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Pada bulan Desember, inflasi Inggris sendiri telah tumbuh 0,2%.

Melihat pada perkembangan pasar saat ini, kami meyakini bahwa membeli emas merupakan langkah yang tepat untuk meraih keuntungan jangka panjang. Meski demikian, waktu yang tepat untuk melakukan pembelian itu sendiri sebaiknya tidak dilakukan dalam jangka waktu dekat ini. Kenaikan harga emas saat ini akan mendorong sebagian pelaku pasar latah dan masuk dengan posisi beli sehingga mendorong harga emas naik, jadi untuk membeli emas sebaiknya tunggu hingga harga emas terkoreksi kembali. Harga emas diperkirakan masih akan diperdagangkan pada kisaran $1.215 hingga $1.225 dalam waktu dekat ini.

Sebagai indikasi waktu yang tepat untuk melakukan pembelian pada komoditi emas, bisa melihat pada pergerakan bursa saham. Keprihatinan global atas fluktuasi harga minyak mentah membawa gejolak pada pasar saham pula. Buramnya pertumbuhan ekonomi global membuat emiten sulit memproyeksikan pertumbuhan keuntungannya, alhasil harga saham turun. Investor melakukan risk aversion dengan membeli emas kembali.

Sebaliknya, skeptisme pasar emas juga mengemuka meskipun bursa saham mengalami penurunan pula. Menjual emas saat ini bisa juga dianggap saat yang tepat mengingat masa kekhawatiran pasar akan kondisi ekonomi global justru akan mereda. Kemajuan yang tercapai antara produsen minyak global secara sistematik akan membuat harga minyak stabil dan lebih baik. Dampak perekonomian Cina bagi perekonomian global juga diperkirakan tidak sebesar yang ditakutkan, sehingga ketakutan-ketakutan akan munculnya kebijakan suku bunga negatif oleh berbagai bank sentral bisa jadi tidak akan terwujud. Hal yang utama adalah kondisi ekonomi AS sendiri yang terus membaik dan hanya berpeluang kecil untuk kembali masuk kedalam resesi.

Pendek kata, seperti yang dikatakan oleh mendiang Presiden AS Franklin D. Roosevelt, Tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan, kecuali ketakutan itu sendiri. Pasar keuangan terlalu berlebihan dalam merespon dan harga emas akan kembali terkulai di tahun ini, cepat atau lambat setelah semuanya kembali mapan. Dalam satu kwartal kedepan, diperkirakan harga emas akan kembali ke $1.100 per ons dan diakhir tahun ini bisa kembali ke harga $1000 per ons.