Equityworld Futures :

Pemimpin keuangan Kelompok 20 (G20) berkomitmen melaksanakan kegiatan yang bertujuan membantu pertumbuhan ekonomi global. Komitmen tersebut muncul di tengah kekhawatiran munculnya kebijakan moneter yang justru menyulitkan keadaan. Seperti diberitakan Bloomberg, Sabtu (27/2), para menteri keuangan G20 menyatakan akan menggunakan kebijakan fiskal secara fleksibel untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Kebijakan moneter saja tidak akan menyebabkan pertumbuhan yang seimbang.

Mereka juga sepakat akan menahan diri untuk bersaing mendevaluasi nilai tukar mata uang negara masing-masing. Sebaliknya, mereka akan saling berkoordinasi dan berkonsultasi terkait nilai tukar. Kami akan menggunakan semua alat kebijakan, moneter, fiskal dan struktural untuk memperkuat pertumbuhan investasi dan menjamin stabilitas pasar keuangan, demikian pernyataan resmi G20 saat mengakhiri pertemuan yang berlangsung di China, Sabtu pekan lalu.

China dalam enam bulan terakhir telah mendevaluasi mata uangnya dengan sangat cepat. Tindakan tersebut memicu kemarahan negara lain, salah satunya Amerika Serikat (AS) yang menuding China hanya ingin menang sendiri. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi China tercatat hanya 6,9%. Tahun ini, target pertumbuhan China akan dipublikasikan pada akhir pekan ini. Sejumlah analis meramal, China bakal membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% pada di tahun 2016.

Sebelumnya, ekonom Citi telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2016 dari sebelumnya 2,7% menjadi 2,5%. Ini disebabkan perlambatan perekonomian negara-negara maju. Menurut Citi, pertumbuhan ekonomi global bisa melorot di bawah 2% bila pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang melambat.

Sementara, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas prediksi ekonomi dunia tumbuh 3,4% dari sebelumnya 3,6%. Para pemimpin ekonomi G20 juga menilai ekonomi dunia akan shock jika Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa. G20 mengindikasikan tahun ini risiko penurunan dan kerentanan ekonomi kian meningkat akibat hengkangnya modal asing, penurunan harga komoditas, isu geopolitik serta isu cabutnya Inggris dari Uni Eropa atau british exit