Sejumlah analis memprediksi pertemuan berikutnya antar negara produsen minyak mentah yang tergabung dalam OPEC untuk menstabilkan harga menemui jalan buntu. Pada rapat OPEC sebelumnya di Doha, Qatar, gagal mendapatkan solusi, setelah Arab Saudi bersikeras tidak akan menahan produksi jika produsen utama lainnya, termasuk Iran, tidak mengikuti kesepakatan.

Hal ini juga mengangkat kekhawatiran produsen di Timur Tengah bakal menggenjot suplai di tengah upaya menstabilkan pasar. OPEC menyatakan kemungkinan besar akan kembali membahas pembekuan produksi pada Juni di Wina, Austria. Namun, Sekretaris Jenderal OPEC menyatakan walaupun begitu sulit membayangkan organisasi berbalik begitu saja setelah Doha gagal mencapai kesepakatan.

Choice Equity Broking melalui publikasi risetnya menyampaikan dalam jangka panjang, prospek harga WTI dapat kembali menyentuh level US$40 per barel. Namun, pandangan bearish ini bisa berbalik bila minyak mentah menembus level resistance US$49 per barel. “Secara keseluruhan, kami mempertahankan pandangan bearish untuk minyak mentah, terutama dalam tiga bulan ke depan,” papar laporan tersebut.

Faktor yang memengaruhi pergerakan harga dalam waktu dekat, sambung Choice, ialah saat ini OPEC masih belum memiliki kepastian sikap menjelang rapat pada Juni. Sebelumnya, perundingan mengenai pembekuan produksi pada April mengalami kegagalan. Pekan lalu, OPEC mengadakan pertemuan di Wina, Austria untuk membahas poin-poin agar tingkat fundamental antara suplai dan permintaan minyak mentah dapat membaik. Namun, kemungkinan pembekuan produksi ini sangat bergantung pada perubahan sikap di pasar.

Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, menuturkan investor bullish juga menambah pembelian setelah data impor minyak mentah China bertumbuh 7,6%. Hal ini menimbulkan spekulasi penyerapan komoditas minyak masih cukup kuat, meskipun Negeri Panda sedang mengalami perlambatan ekonomi. Akan tetapi, pencopotan Ali Al-Naimi dari posisi Menteri Energi Arab Saudi secara tiba-tiba memberikan kekhawatiran permasalahan surplus suplai akan semakin meningkat. Oleh karena itu, harga dapat semakin merosot tajam dalam jangka waktu menengah.

Dari sudut pandang teknikal, apabila terjadi breakdown di bawah US$44 per barel, maka harga dapat menuju US$41,40 per barel. Miswin Mahesh, Commodities Strategist Barclays Capital, mengatakan investor juga menyoroti pengangkatan Klhalid Al-Falih sebagai Menteri Energi Arab Saudi yang baru. Pasalnya, mantan bos perusahaan minyak raksasa Aramco itu berpandangan rendahnya harga membuat pasar membutuhkan keseimbangan.

Hingga bulan lalu, minyak mentah menunjukkan rebound terkuat di tengah krisis keuangan global. Kenaikan harga sudah mencapai 80% dari posisi terendah pada Januari yang didorong oleh penurunan produksi di AS dan Libya, serta melemahnya dolar. Namun, reli terancam memudar seiring dengan langkah Rusia dan negara-negara produsen utama di Timur Tengah menggenjot pasokan. Tingkat suplai diperkirakan surplus 1,5 juta barel per hari.

Adapun, sentimen lain yang memengaruhi pergerakan harga ialah situasi keamanan yang memburuk di sebagian besar wilayah penghasil minyak di Nigeria dan rencana pertemuan Ekuador dengan Venezuela untuk membahas harga sebelum pertemuan OPEC pada Juni.