Pasokan minyak mentah di pasar global berpotensi semakin membanjir pada tahun ini. Organisasi negara-negara pengekspor minyak alias Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menyebut, suplai bakal berlebih, meskipun terjadi penurunan produksi di negara produsen di luar OPEC. Pasalnya, sejumlah anggota OPEC justru tengah getol mendongkrak produksi. Iran yang baru saja lepas dari sanksi ekonomi, leluasa memompa produksi minyak. Ini terjadi setelah pertemuan OPEC, Rusia dan negara produsen minyak lainnya untuk membekukan produksi minyak pada April 2016, gagal mencapai kesepakatan.

Per April 2016, OPEC menghasilkan sebanyak 32,44 juta barel minyak per hari (bph). Produksi harian tersebut lebih tinggi 188.000 barel ketimbang bulan sebelumnya. Reuters mencatat, ini merupakan level produksi tertinggi OPEC setidaknya sejak 2008 silam. “Pada dasarnya, kelebihan pasokan masih berlanjut. Produksi minyak tetap tinggi,” kata OPEC dalam laporan yang diterbitkan pada Jumat.

Dari sisi permintaan, OPEC masih memprediksi kenaikan permintaan minyak dunia sebesar 1,20 juta bph menjadi 31,49 juta pbh pada tahun ini. Proyeksi tersebut tidak berubah dibandingkan perkiraan bulan lalu. Sehingga, surplus diperkirakan mencapai 950.000 bph pada tahun ini, jika OPEC terus memompa produksi seperti yang dilakukan per April lalu. Besaran surplus lebih tinggi dibandingkan laporan bulan sebelumnya yaitu hanya 790.000 bph.

Dalam laporannya, OPEC menduga, banjir pasokan bakal membebani harga minyak, meskipun belakangan ini, harganya sudah bangkit dari posisi terendah 12 tahun. Seperti diketahui, pada Januari 2016, minyak mentah sempat terperosok di level $ 27,1 per barel. Adapun, bulan ini, harga minyak sudah bergulir di kisaran $ 47 per barel. Di sisi lain, jebloknya harga minyak telah memaksa sejumlah produsen, terutama non OPEC menekan produksi. Bahkan, perusahaan di kawasan tersebut menunda atau membatalkan sejumlah proyek di seluruh dunia.

OPEC menghitung, pasokan dari produsen luar OPEC akan turun 740.000 bph pada tahun ini. Penurunan produksi terutama akan dialami oleh Amerika Serikat. Penurunan pasokan bisa lebih besar karena efek kebakaran hutan di Kanada yang telah memangkas produksi. Penurunan produksi non OPEC dinilai membuka peluang harga minyak lebih kuat di masa mendatang. “Di samping AS, sudah ada tanda-tanda yang konsisten penurunan produksi dari non-OPEC, sehingga ada prospek pasar yang lebih kuat tahun depan,” tulis OPEC dalam laporannya.