Equityworld Futures– Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (9/8) pagi hingga siang, bergerak menguat sebesar 24 poin menjadi Rp 13.100 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.124 per dolar AS.

Kurs rupiah terlihat masih mampu bergerak di area positif, sentimen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia triwulan II yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya menjadi salah satu faktor penopang mata uang domestik.  PDB Indonesia kembali berada di area 5%. Itu menjadi salah satu faktor yang menjaga rupiah.

Meski demikian, dolar AS yang cenderung menguat terhadap mayoritas mata uang dunia dapat mempengaruhi laju rupiah ke depannya sehingga pergerakan mata uang domestik berpotensi terkonsolidasi.

Mata uang dolar AS yang cenderung menguat di pasar global dapat membatasi laju rupiah untuk bergerak lebih tinggi.  Di sisi lain, pemangkasan anggaran serta realisasi amnesti pajak yang masih belum signifikan juga diperkirakan memberikan sedikit sentimen negatif di pasar keuangan Indonesia.

Kebijakan mengenai 7 days repo rate yang akan diberlakukan pada 19 Agustus 2016 oleh Bank Indonesia akan menjadi fokus pasar, situasi itu diharapkan dapat mendorong penguatan rupiah lebih tinggi.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, saat ini kondisi likuiditas perbankan terjaga cukup baik yang antara lain didukung ekspansi pemerintah. Ke depan, kondisi likuiditas perbankan diharapkan tetap terjaga.

Sebagai informasi, Gubernur BI menegaskan, Bank Sentral akan terus berada di pasar guna memastikan kondisi likuiditas perbankan tetap memadai. Hingga akhir tahun ini, BI memproyeksikan pertumbuhan DPK sebesar 8-9% dengan proyeksi pertumbuhan kredit berkisar 10-11%.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, tahun lalu perbankan sempat mengalami likuiditas ketat antara lain karena penerimaan fiskal turun dan belanja yang cepat. Namun, BI kemudian menambah likuiditas pada perbankan, antara lain dengan menurunkan giro wajib minimum (GWM) sehingga likuiditas perbankan kembali melonggar.

kini, menurut Perry, likuiditas perbankan berada terhadap keadaan yg memadai. Apalagi waktu ini terdapat falsafah dana asing yg pass akbar masuk ke Indonesia. Sampai akhir minggu dulu, falsafah dana asing (capital inflow) yg masuk lebih kurang Rupiah 130 triliun.