Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (4/3) pagi hingga siang, bergerak menguat sebesar 72 poin menjadi Rp 13.160 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.232 per dolar AS.  Kurs  rupiah masih mempertahankan tren kenaikannya terhadap dolar AS dengan terus bergerak positif untuk melanjutkan penguatannya.  Pergerakan mata uang rupiah masih didukung dari beberapa faktor kondisi makroekonomi Indonesia yang dinilai mengalami tren membaik sehingga mendorong porsi dana asing di Surat Utang Negara (SUN) domestik cenderung meningkat.

Sentimen eksternal mengenai harga minyak mentah dunia yang berada dalam tren penguatan,  menambah sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Diharapkan sentimen itu terjaga.  Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI Crude, Jumat (4/3) pagi, berada di level USD 34,74 per barel, naik 0,49%. Sementara itu, minyak mentah jenis brent crude di posisi USD  37,09 per barel, naik 0,05%.  Dengan asumsi aliran dana asing masih terjadi dan harga minyak yang juga masih berpeluang melanjutkan pergerakan positifnya maka potensi rupiah akan berada di area positif.

Selain itu,  dolar AS berpotensi mengalami penurunan terhadap mayoritas mata uang utama dunia pasca data pekerjaan di sektor jasa Amerika Serikat menunjukkan penurunan. Kondisi itu memicu kekhawatiran atas data resmi ketenagakerjaan AS yang sedianya aka dirilis akhir pekan ini (Jumat, 4/3) waktu setempat.  Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks pekerjaan turun menjadi 49,7 pada bulan Februari dari 52,1 pada bulan sebelumnya, yang menandai penurunan pertama dalam pekerjaan sektor jasa sejak Februari 2014.

Masih dangkalnya pasar keuangan di Indonesia dinilai sangat rentan terhadap ancaman krisis. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan industri keuangan dalam negeri harus diperkuat dengan diversifikasi instrumen investasi keuangan.  Pasar keuangan syariah menurutnya menjadi salah satu potensi ekonomi yang patut dikembangkan. Ia menilai pasar keuangan syariah sangat stabil di tengah perkembangan sektor keuangan konvensional saat ini sangat dinamis.

Saat ini, Kementerian Keuangan telah menerbitkan sukuk berdenominasi USD. Minat masyarakat terhadap sukuk pun terlihat semakin meningkat sebagai sarana investasi syariah.  Salah satu instrumen keuangan dalam Kemenkeu adalah keuangan berbasis syariah. Kita punya sukuk ritel, SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), sukuk berdenominasi dolar Amerika, sukuk dana haji. Saya ingin negara manapun di dunia nanti berpikir, kalau ingin memanfaatkan sukuk ingatnya langsung Indonesia.