Harga minyak mentah tergelincir di perdagangan sesi Asia pada Senin (23/05) terganjal penguatan dolar AS dan tanda-tanda bahwa pasokan minyak mentah global meningkat sekalipun volume tertekan penurunan yang tidak direncanakan naik ke setidaknya tertinggi lima tahun.

Dalam indikasi lebih lanjut dari pasokan melimpah, jumlah kilang minyak yang dioperasikan oleh pengebor AS stabil minggu lalu untuk pertama kalinya tahun ini.

Harga minyak mentah berjangka AS jatuh 26 sen menjadi $ 48,15 per barel, setelah menetap 41 sen di sesi sebelumnya.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent turun 18 sen menjadi $ 48,54 per barel pada 0421 GMT, setelah mengakhiri sesi sebelumnya turun 9 sen.

Indeks dolar AS sedikit lebih rendah pada awal perdagangan Senin setelah naik selama seminggu berturut-turut pekan lalu. Sebuah penguatan dollar AS membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar AS lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Minyak mentah AS naik 3,3 persen minggu lalu, sementara Brent naik 1,7 persen, dengan adanya penurunan pasokan yang tidak terduga yang naik ke tertinggi setidaknya sejak 2011 karena kebakaran hutan di Kanada dan kerugian di Nigeria, Libya dan Venezuela.

Tapi pasokan minyak dunia masih melampaui permintaan sekitar 1,5 juta barel per hari, Menteri Energi Rusia Alexander Novak, menyatakan pada hari Jumat.

Sementara itu, Goldman Sachs mengatakan, pihaknya memperkirakan produktifitas (shale) naik pada 2020, yang akan mendorong breakevens rata-rata untuk perdagangan shale di bawah $ 50 per barel untuk minyak mentah AS, kata bank dalam sebuah laporan riset, Senin.

Goldman juga mengangkat rata-rata perkiraan Brent menjadi $ 45 per barel tahun ini, naik dari $ 39, sementara West Texas Intermediate akan rata-rata $ 45 per barel tahun ini, naik dari $ 38 sebelumnya.

Tapi pasokan yang lebih besar dari AS dan OPEC diturunkan proyeksinya untuk 2017, dengan rata-rata $ 55 per barel untuk Brent, dari $ 60 sebelumnya, dan $ 53 per barel untuk WTI, terhadap $ 58 sebelumnya.

Di tempat lain, Iran berencana untuk meningkatkan kapasitas ekspor minyak 2,2 juta barel pada musim panas dan tidak memiliki rencana untuk membekukan tingkat produksi minyak dan ekspor, wakil menteri minyak Irak menyatakan. Pertemuan kelompok eksportir OPEC, termasuk Iran, dijadwalkan 2 Juni.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pada perdagangan selanjutnya harga minyak mentah berpotensi turun dengan penguatan dollar AS dan kekuatiran kelebihan pasokan global. Harga diperkirakan menembus kisaran Support $ 47,65-$ 47,15, dan jika naik akan menembus kisaran Resistance $ 48,65-$ 49,15.


Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center

Editor : Asido Situmorang

Equityworld surabaya

http://eworld-f.com/