Harga minyak mentah diperdagangkan mendekati 2016 tertinggi pada sesi Asia hari Rabu (18/03), karena gangguan pasokan dan penurunan produksi terus memperketat pasar, meskipun pedagang memperingatkan bahwa persediaan minyak mentah global yang tinggi masih membebani pasar.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate tidak berubah pada $ 48,31 per barel.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka internasional Brent diperdagangkan pada $ 49,31 per barel pada 0047 GMT, 3 sen di atas pemukiman terakhir mereka.

Kedua kontrak tetap berada dekat tertinggi 2016 mereka masing-masing Brent pada dari $ 49,75 dan WTI pada $ 48,76 per barel.

“Dengan minyak terus mengaami gangguan pasokan, data persediaan EIA akan menjadi kunci untuk pergerakan harga. Penurunan lebih lanjut dalam persediaan bisa melihat harga minyak yang lebih tinggi,” kata ANZ Bank.

Industri minyak juga mengawasi Venezuela, di mana gejolak ekonomi dan politik mengancam produksi minyak.

Meskipun terjadi gangguan produksi, BNP Paribas mengatakan bahwa masih ada kelebihan penyimpanan yang besar yang harus dikurangi sebelum pasar bisa kembali seimbang. Bank bahkan mengatakan bahwa persediaan minyak mentah global masih merayap meskipun ada gangguan pasokan, menyiratkan bahwa masih ada lebih banyak minyak yang diproduksi daripada yang dikonsumsi.

Malam nanti akan dirilis data persediaan minyak mentah mingguan AS oleh pemerintah AS melalui EIA, yang diindikasikan masih dalam posisi penarikan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pada perdagangan selanjutnya harga minyak mentah berpotensi naik dengan sentimen penurunan produksi dan persediaan minyak mentah. Namun perlu dicermati pergerakan dollar AS yang jika naik signifikan dapat menekan harga minyak mentah. Harga diperkirakan menembus kisaran Resistance $ 48,80-$ 49,30, dan jika turun akan menembus kisaran Support $ 47,80-$ 47,30.


Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center

Editor : Asido Situmorang