Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan hari Rabu, karena dolar melonjak setelah rilis risalah pertemuan Federal Reserve AS yang menunjukkan pembuat kebijakan bisa menaikkan suku bunga pada bulan Juni.

Sebuah penguatan dollar AS membuat komoditas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate turun 12 sen lebih rendah, atau 0,25 persen, pada $ 48,19 per barel. Sesi tinggi adalah $ 48,95, tertinggi sejak pertengahan Oktober.

Sedangkan harga minyak mentah internasional Brent turun 46 sen ke $ 48,80 per barel. Mencapai $ 49,85 sebelumnya, tertinggi sejak November.

Harga minyak telah meningkat sekitar 1 persen pada hari Rabu, mencapai tertinggi baru 2016, karena pasar fokus pada penarikan besar dalam persediaan minyak olahan AS dan mengabaikan kejutan peningkatan dalam stok minyak mentah.

Harga minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) AS menguat mendekati target $ 50 er barel setelah datang data pasokan-permintaan dari AS Administrasi Informasi Energi (EIA).

Persediaan minyak mentah AS naik 1,3 juta barel dalam pekan sampai 13 Mei dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk penurunan 2,8 juta barel dan penarikan 1,1 juta barel yang dilaporkan pada hari Selasa oleh kelompok perdagangan, American Petroleum Institute.

Persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma, pusat pengiriman untuk WTI berjangka juga naik, dengan 461.000 barel, ke rekor tertinggi.

Perhatian pasar, pada penurunan persediaan bensin dari 2,5 juta barel setelah analis memperkirakan penurunan 150.000 barel.

Persediaan distilasi, yang termasuk diesel dan minyak pemanas, merosot 3,2 juta barel, dibandingkan ekspektasi untuk penurunan 642.000 barel.

Minyak telah rally sejak awal pekan ini atas ekspektasi stok minyak mentah AS yang lebih rendah, ancaman api baru pada pasokan minyak Kanada dan kekhawatiran tentang pemadaman di Libya dan Nigeria.

Harga naik lebih dari 80 persen dari posisi terendah 12-tahun dari sekitar $ 27 untuk Brent pada bulan Januari dan sekitar $ 26 untuk WTI pada bulan Februari.

Meski begitu, analis khawatir lagi kekenyangan minyak utama.

Data dari Iran menunjukkan ekspor minyaknya juga pulih lebih cepat dari yang diharapkan. Iran, produsen minyak terbesar keempat di dunia dan nomor dua eksportir di Organisasi Negara Pengekspor Minyak, diatur memuatkan minyak di kapal 2,1 juta barel per hari pada bulan Mei, hampir 60 persen di atas level mereka setahun lalu.

Namun ekspor minyak mentah Arab Saudi pada bulan Maret, sedikit turun menjadi 7.541.000 barel per hari dari 7.553.000 pada bulan Februari, data resmi menunjukkan pada hari Rabu.

JBC juga memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak menuju $ 50 per barel bisa membalikkan beberapa penurunan produksi antara produsen biaya tinggi, termasuk pengebor shale di Amerika Serikat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pada perdagangan selanjutnya harga minyak mentah berpotensi turun dengan penguatan dollar akibat kekuatiran kenaikan suku bunga AS. Harga diperkirakan menembus kisaran Support $ 47,70-$ 47,20, dan jika naik akan menembus kisaran Resistance $ 48,70-$ 49,20.


Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center

Editor : Asido Situmorang