Dekade 1990’an ada iklan rokok dengan kalimat “How Low Can You Go,” untuk menggambarkan betapa rendahnya kandungan nikotin produknya dimana pesaing-pesaingnya dianggap tidak bisa lebih rendah darinya. Begitu juga gambaran yang terjadi di pasar saham pada 2009. Guncangan krisis keuangan di Amerika Serikat menyapu trilyunan Dolar AS dari bursa saham. Wall Street Journal pada edisi 9 Maret 2009 menjadikan tajuk utama hari itu, “How Low Stock Can Go”, menggambarkan kondisi saat itu sebagai yang paling buruk semenjak era Great Depression.

Tujuh tahun berlalu sejak pasar berada pada titik nadirnya, 9 Maret 2016 dengan catatan terkini $14 trilyun nilai saham telah kembali dan mendorong indek Standard & Poor’s 500 naik hampir 200%. Saat ini, kecemasan mulai merasuki para investor. Keyakinan mereka turun, bahwa pasar akan sanggup terus menanjak. kekhawatiran ini didasarkan pada pendapatan perusahaan-perusahaan yang masih mengecewakan, pertumbuhan ekonomi yang melambat dan ketidak pastian sikap Tiongkok berkenaan dengan kebijakan suku bunganya. Investor akhirnya mengamankan diri dengan menarik dana-dana mereka dari pasar saham dalam tingkat kecepatan yang sebelumnya belum pernah terjadi. Akibatnya, dalam masa 18 bulan terakhir ini, Indek S&P 500 pun hanya mampu naik 0,5% saja.

Mengacu pada sejarah sebelumnya, pandangan tradisional menyikapi kejadian ini dengan lebih sinis. Agar pasar tidak tumbang, dan bisa bertahan lebih lama maka sikap investor tersebut sangat wajar. Pasar yang terlalu kuat dorongan kenaikannya, lazimnya tewas oleh rasa percaya diri yang berlebihan. Selanjutnya tentu akan sulit ditemukan. Pelaku pasar saat ini telah dihinggapi perasaan pesimis, skeptis dan tidak yakin untuk menempatkan dana mereka pada saham-saham dimana posisi mereka telah ada di harga-harga tinggi yang sebelumnya belum pernah dijumpai. Tentu saja ini akan semakin menarik, sentimen-sentimen yang bertentangan akan membentuk kekhawatiran saham-saham ini mampu memanjat naik.

Kekhawatiran ini terlihat dari aliran dana yang keluar dari bursa saham. Dalam 12 bulan terakhir ini para investor telah mengeluarkan setidaknya $140 milyar, dua kali lipat lebih besar daripada saat puncak terjadinya arus keluar modal dalam periode yang sama saat krisis keuangan global terjadi. Menariknya, saham-saham akan cenderung bergerak naik beberapa waktu kemudian setelah arus besar modal keluar. Dalam catatan, semenjak tahun 1984, ada 12 kali kejadian dimana tercatat arus keluar besar terjadi dan enam bulan kemudian terjadi kenaikan saham-saham. Dari selusin peritiwa tersebut, hanya dua kali terjadi penyimpangan polanya. Indek S&P 500 umumnya naik sebesar 7,1 persen, menurut hasil penelitian Bloomberg.

Seberapa rendah lagi saham akan turun, hampir semua tidak akan bisa menduga dalamnya penurunan harga. Setidaknya perasaan skeptis bahwa pasar akan sulit menanjak, bisa mempertimbangkan akan berbaliknya kembali pasar. Dengan pola yang sebelumnya terjadi, setidaknya dalam satu semester kedepan akan terjadi kenaikan harga kembali.Tentu saja ini akan menjadi peluang bagi investor yang cukup berani beresiko, risk appetite, masuk setelah yakin bahwa jatuhnya harga tidak akan lama lagi dan pasar akan siap-siap berbalik arah.

Dalam 7 tahun terakhir ini, sektor-sektor saham yang menjadi Top Gainers adalah Sektor Konsumen, yang paling menonjol, diikuti dengan sektor keuangan, industri, teknologi. Ketiga sektor tersebut beriringan kenaikan harganya. Sektor Utilitas, telekomunikasi dan Energi menempati posisi buncit kinerjanya sepanjang 7 tahun ini. Mempertimbangkan rekam jejak kenaikan tersebut, investor memiliki pilihan untuk menjatuhkan pada sektor mana yang sangat potensi untuk naik setidaknya dalam satu semester hingga satu tahun kedepan.

Tahun 2016 diawali dengan kinerja yang mengecewakan, enam minggu pertama tercatat sebagai kinerja terburuk dalam sejarah pasar saham AS. Bursa bergerak 2% baik naik atau turun. Namun semenjak pertengahan Februari, sepertinya tekanan Bearish telah berubah menjadi peluang untuk aksi beli kembali, buy back. Beberapa emiten nampaknya layak kembali diperhatikan dengan menjanjikan kinerja yang baik di tahun ini.

Sektor keuangan masih dianggap sebagai biang lahirnya krisis keuangan 2008. Nyatanya pada bulan Februari kemarin, mereka memimpin penguatan kembali pasar dari keterpurukannya. Investor masih menyalahkan sektor ini yang menimbulkan bencana. Tahun lalu, sektor ini mampu menghasilkan setidaknya $228 milyar di bursa S&P 500. Sejalan dengan membaiknya pasar, sektor ini ternyata juga pulih. Alhasil, sektor yang dulunya dibenci, seperti energi dan tambang, nampaknya juga siap-siap akan menjadi kesukaan investor kembali. Tren penurunan (Bearish) telah membuka pintu-pintu aksi beli kembali.