Harus diakui bahwa berbagai data positif pada minggu lalu mampu menjadi angin buritan yang mendorong kenaikan indek saham dan kini nampaknya angin telah berubah haluan. Pasar bergerak fluktuatif meskipun arah perdagangan kurang menentu.

Pada Rabu (09/03/2016) Bursa Saham Asia bergerak cenderung turun melanjutkan penurunan sebelumnya dan mengikuti hasil perdagangan di Wall Street. Saham-saham Jepang menjadi penggerak penurunan hari ini dipengaruhi oleh sentimen keprihatinan baru atas berbagai pernyataan terkait kondisi ekonomi global yang akhirnya mendorong kebutuhan pengamanan investasi, sehingga menekan harga komoditi pula.

Indek TOPIX Jepang menurun 1% dimana sektor pertambangan menjadi penggerak utama penurunan ini. Harga komoditi tembaga dalam perdagangan berjangka melanjutkan penurunan harganya oleh aksi jual ditengah kebangkitan industri logam saat ini. Harga minyak mentah masih diperdagangkan dibawah $37 per barel. Dolar Australia masih terdepresiasi sementara Yen Jepang naik untuk ketiga harinya ini atas Dolar dan Euro.

Setelah tiga minggu lamanya kenaikan bursa saham terjadi dan mampu mengembalikan hampir $5 trilyun dana yang sebelumnya merugi dari penurunan nilai ekuitas global, penurunan ini menjadi masuk akal secara teknikal. Koreksi sesaat paska rally yang panjang untuk menemukan keseimbangan baru sembari menunggu data ekonomi terbaru, khususnya mengenai Jepang dan Tiongkok. Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada langkah apa yang akan diambil baik oleh European Central Bank (ECB) atau Bank of Japan dan bahkan The Federal Reserve yang akan diumumkan dalam sepekan ini. Banyak pendapat menilai penurunan yang terjadi di saham-saham Tiongkok telah mencukur setidaknya 0,3 % dari pertumbuhan nasional negeri Tirai