Equity world-Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar spot pada perdagangan Kamis (11/8) menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp 13.105/USD. Pada penutupan kemarin, mata uang nasional berakhir naik 14 poin menjadi Rp 13.113/USD.

Apresiasi rupiah ini seiring dengan jatuhnya indeks USD ke level terendah sejak Juni, karena memudarnya spekulasi tentang Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga pada tahun ini. Data Yahoo Finance, Kamis (11/8), rupiah juga dibuka berotot sebesar 16 poin atau 0,12% ke level Rp 13.086/USD, dimana kemarin rupiah ditutup di level Rp 13.112/USD. Rupiah pada hari ini diperkirakan berada pada range Rp 13.079-Rp13.112/USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, pada Kamis (11/8), rupiah dibuka Rp 13.113/USD, terapresiasi 10 poin dari Rp 13.123/USD pada Rabu (10/8). Melansir Bloomberg, Kamis ini, greenback melemah terhadap semua mata uang utama, menghapus rally yang dilakukan sebelumnya.

Mata uang AS menurun lebih dari 4% pada 17:00 di New York, mencapai tingkat terendah sejak 23 Juni. Greenback turun 0,5% menjadi USD1,1176 per euro dan kehilangan 0,6% menjadi 101,29 ¥. Sekitar 18% pedagang mengharapkan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September, dengan asumsi bahwa suku bunga tersebut akan efektif menggairahkan perekonomian Amerika.

Sebagai informasi, harga minyak jatuh pada Kamis ini imbas dari melebihnya pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) dan produksi berlebihan Arab Saudi yang membebani pasar. Melansir Reuters, Kamis (11/8), minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan turun 37 sen atau 0,9% ke level USD41,34 per barel pada 20:32 ET.

Sedangkan minyak mentah berjangka London International Brent turun 33 sen atau 0,8% ke posisi USD43,72 per barel. Minyak turun tajam sesudah data dari Administrasi Berita Energi (EIA) Amerika yg menunjukkan persediaan minyak mentah naik 1,1 juta barel dalam minggu yg mogok 5 Agustus. Analis ygdisurvei Reuters memperkirakan hasil imbang mentah 1,0 juta barel yang merupakan gantinya.