Emas jatuh untuk sesi kelima berturut-turut pada hari Jumat hingga menghasilkan penutupan mingguan negatif 2,8%. Data penjualan ritel AS sesuai harapan, meningkatkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi AS dan mengurangi permintaan safe-haven.

Minggu ini, emas telah terpukul oleh dolar seiring dengan ekspektasi Federal Reserve akan memberi pernyataan lebih hawkish mengenai tingkat suku bunga.

Emas turun $7,50, atau 0,6% dan ditutup di $1,231.50 per ounce. Sementara perak naik tipis satu sen ke $18,55 per ounce tetapi masih turun 2,8% untuk minggu ini.

Penjualan ritel AS naik pada bulan Agustus sebesar 0,6%, sesuai ekspektasi dan mewakili kenaikan terbesar sejak April. Penjualan ini direvisi lebih tinggi untuk Juni dan Juli. Data September awal di University of Michigan untuk indeks Thomson Reuters/sentimen konsumen naik menjadi 84,6, tertinggi sejak Juli 2013. Dua data ini menjadi pendorong penguatan dolar dan penurunan harga komoditi.

Di sesi yang sama minyak mentah juga terjatuh jatuh karena penguatan dolar dan laporan penting yang memperkirakan permintaan global yang melemah untuk minyak mentah dan pasokan berlimpah.

Minyak mentah light-sweet turun 56 sen, atau 0,6%, dan ditutup di $92,27 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah penurunan 1% pada minggu ini, selama 10 dari 12 minggu terakhir.

Minyak mentah Brent turun 97 sen, atau 1%, ke $97,11 per barel. Ini menjadi kerugian mingguan sebesar 3,7%, penurunan terbesar mingguan sejak pekan yang berakhir 11 Juli lalu Brent telah turun selama tiga minggu berturut-turut.

Untuk pasar dunia, semua komoditi dihitung dalam dolar. Jadi hingga akhir pekan lalu penguatan dolar masih menjadi faktor utama ambruknya harga-harga komoditi. Penguatan dolar akan menekan harga komoditi karena harga tersebut akan menjadi mahal bagi para pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.