Harga emas tergelincir, tertekan oleh terus turunnya harga minyak mentah dan prospek ekonomi Amerika Serikat (AS). Meski demikian, kondisi geopolitik yang belum stabil, masih memberikan dukungan terhadap pergerakan logam kuning tersebut.

Emas melemah, setelah adanya kekhawatiran bahwa the Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkirakan. Selain itu, emas juga tertekan setelah data menunjukkan klaim pengangguran AS turun tak terduga pekan lalu.

Di sisi lain, aksi unjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong juga memberikan tekanan pada harga emas. Investor khawatir kerusuhan yang di wilayah administrasi khusus tersebut, dapat mengancam pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia, China.

“Dengan kemungkinan pelemahan lebih lanjut di pasar ekuitas, ditambah dengan situasi masih volatil di Hong Kong, kita tidak ingin membeli emas jangka pendek ini,” kata analis logam di INTL FCStone, Edward Meir, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (3/10/2014).

“Karenanya, kami pikir dapat mengambil manfaat dari logam mulia serta beberapa short-covering pada ke akhir pekan,” tambah dia.

Emas jenis Spot turun 0,1 persen menjadi USD1.212,25 per ons. Sedangkan emas berjangka AS, Comex Gold, untuk pengiriman Desember ditutup turun 40 sen pada USD1.215,10.

Sedangkan Platinum, turun 1 persen menjadi USD1.262,25 per ounce setelah jatuh ke level terendah lima tahun di sesi sebelumnya, dan paladium turun 1,1 persen menjadi USD765,75 per ounce.