Equityworld Futures : Harga emas sedikit melemah pada Selasa pagi dengan fokus pada data inflasi dan ritel Amerika Serikat untuk mendapatkan informasi tentang waktu kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga, seperti diprediksi oleh mayoritas pelaku pasar. Pada divisi Comex New York Mercantile Exchange, emas berjangka untuk pengiriman Juni turun 0,04% menjadi $1.198,80 per troy ounce.

Pada hari Senin, Tiongkok mengatakan ekspor menurun 15% pada basis tahun-ke-tahun, satu bulan setelah naik hampir 50%. Impor Tiongkok untuk bulan Maret juga turun sebesar 12,7%, setelah turun 20,5% pada bulan Februari. Tiongkok adalah pembeli terbesar kedua di dunia emas.

Semalam, emas berjangka tergelincir karena dolar terus menguat. Komoditas denominasi dolar seperti emas menjadi lebih mahal untuk pembeli asing saat dolar lebih kuat.

Para pembuat kebijakan di Federal Reserve menunggu rilis data inflasi dan Indeks Harga Konsumen untuk bulan Maret untuk mengukur inflasi. Bulan lalu, Janet Yellen menyatakan ia ingin melihat gerakan inflasi menuju target 2% sebelum Fed memutuskan waktu kenaikan suku bunga. Data ekonomi yang buruk bisa menyulut spekulasi akan terjadinya penundaan dalam menaikkan suku. Emas sebagai komoditas yang tidak menghasilkan bunga atau dividen, harus berjuang untuk bersaing dengan aset yang memberi yield yang tinggi.

Pagi ini harga minyak mentah naik menjelang data minyak mentah Amerika Serikat dan stok produk olahan. The American Petroleum Institute akan merilis data estimasi stok minyak mentah, bensin dan distilate, yang selanjutnya akan menjadi acuan untuk melihat data serupa dari Departemen Energi.

Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei naik tipis 0,06% menjadi $51,94 per barel. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 0,28% atau 0,17 ke $59,12 per barel. Penyebaran antara patokan harga internasional dan AS untuk minyak mentah mencapai $7,64 per barel.

Tingkat pasokan dan risiko geopolitik di Yaman tetap menjadi fokus. Campuran data pasokan dan politik telah menciptakan volatilitas harga dengan kekhawatiran perlambatan dalam produksi, yang sebelumnya banyak pengamat memprediksi akan menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam harga. Harga minyak mentah telah menurun lebih dari 50% sejak mencapai puncaknya di atas $100 per barrel pada Juli tahun lalu.

Iran juga sedang bersiap untuk meningkatkan ekspor minyak mentah karena pengenduran sanksi ekonomi dan keuangan dari negara-negara Barat. Teheran mengandalkan Beijing sebagai salah satu mitra energi terbesarnya. Sementara itu, pertempuran terus berlangsung di Yaman antara pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran dan pasukan Sunni yang dipimpin dari Arab Saudi. Pertempuran tersebut sangat potensial untuk meningkatkan harga minyak mentah. Selat Bab el-Mandeb yang strategis, salah satu chokepoint terbesar di dunia untuk jalur distribusi minyak. Jika selat itu tertutup dapat membatasi arus keluar dari Terusan Suez dan Laut Merah ke Teluk Aden. Pedagang energi sensitif terhadap berita geopolitik yang melibatkan Arab Saudi, negara penghasil minyak terbesar.