Equityworld Futures : Emas bergerak tipis pada sepanjang sesi transaksi hari Rabu kemarin, dan pada sesi Asia hari ini, nampak bergeliat minor setelah risalah FOMC Minutes mewacanakan kenaikan suku bunga kemungkinan bulan September.

Melanjuti kesimpulan dari pertemuan dua hari 29 April lalu, FOMC menanggalkan semua kalender referensi untuk memilih waktu yang tepat atas kemungkinan mendongkrak suku bunga pertama kalinya dalam hampir satu decade terakhir, lantaran gelombang data ekonomi yang berlabel ‘biasa saja’

Sebelumnya, Fed meninggalkan sikap bersabar terhadap peningkatan suku bunga acuan Fed Fund Rate selama pertemuan bulan Maret, sehingga menyalakan sinyal bahwa Fed kemungkinan akan mendongkrak suku bunga tahun ini.

Dalam pertemuan tersebut, Fed mengindikasikan pertumbuhan ekonomi telah melambat, karena faktor transient, seperti  penurunan harga energy dan penurunan harga import, sebagai dampak dari apresiasi dollar AS

Fed telah menegaskan lagi posisinya bahwa ia akan mengacu pada pendekatan “data pemantik” sebagai basis alasan yang rasional dan konfiden bahwa ekonomi telah meningkat secara signifikan.

Namun, secara lebih spesifik, pada pertemuan terakhirnya, Fed telah menurunkan level kondisi tenaga kerja dari meningkat menjadi moderat, sementara pengeluaran rumah tangga diturunkun dari derajat naik secara moderat menjadi menurun, lantas investasi bisnis direduksi dari ekspansi menjadi kontraksi

Pada rapat April, Presiden Fed, Janet Yellen juga tetap menyimak-jeli terhadap tekanan inflasi, setelah FOMC menjelaskan bahwa inflasi “bergerak di bawah” target tahunan, yaitu 2%. Selepas penurunan tajam pada bulan Januari, Indeks Harga Konsumen (CPI)  AS  memantul naik tipis pada bulan Maret, yaitu 0.2% dari bulan sebelumnya. Berdasarkan basis tahunan, CPI turun 0.1% selama 12 bulan terakhir.

Setidaknya alasan yang disajikan Fed dari hasil FOMC Minutes terakhir tersebut di atas, menggiring para trader dan investor Emas dan Perak untuk memilih menunggu faktor penggerak  selanjutnya

Untuk komoditi unggulan lainnya, yaitu minyak mentah, pada sesi Asia hari ini terlihat bergeliat menyusul prospek permintaan yang sedikit lebih cerah dari para importir Tiongkok sebagai respon atas data HSBC flash manufacturing PMI yang berpotret cerah.  PMI tercatat naik pada level indeks 49.1 pada bulan Mei dibandingkan pada bulan April, yang anjlok menuju level rendah satu tahun, yaitu 48.9. Sedangkan ekspektasi analis, menurun pada level indeks 48.4. Level rendah dalam 13 bulan

Semalam, minyak mentah sempat meronta di tengah berkurangnya stok dan perlambatan produksi,sehingga meredakan kekhawatiran berkepanjangan terkait limpahan pasokan

Harga minyak mentah di WTI mendekati 59 dollar per barrel sebelum dirilis data dari EIA. Dan pada laporannya EIA menyatakan bahwa stok minyak AS turun 2.7 juta barrel untuk akhir pekan 15 Mei, di atas estimasi menyusut 2.1 juta barrel. Stok secara nasional  saat ini adalah 482.2 juta barrel. Level tertinggi untuk setidaknya selama 80 tahun

Pada moment lainnya, Ketua PBB, Bank Ki-Moon menjadwalkan pembicaraan pada tanggal 28 Mei di Jenewa antara pemerintah Yaman, pemimpin Houthi dan pihak lain yang terlibat dalam konflik di Yaman, sebagai upaya mengakhiri perang di negara  kawasan Teluk Persia tersebut

Yaman telah dibombardir oleh pesawat tempur Arab Saudi sejak awal Maret. Dan para trader portofolio energy sangat sensitive terhadap perkembangan konflik Yaman dan Arab Saudi, negara eksportir minyak mentah terbesar di dunia

Pada jam 19.30 WIB malam ini, para  trader Emas dan Perak akan disuguhi data vital dari Washington, yaitu USD Unemployment Claims dengan estimasi naik 271.000 dari sebelumnya 264.000.

Disusul oleh data USD Existing Home Sales pada jam 21.00 WIB dengan prediksi naik 5.23 juta unit dari sebelumnya, 5.19 juta unit, yang bersanding dengan rilisan data USD Philly Fed Manufacturing Index, dengan perkiraan naik 8.1 dari sebelumnya, 7.5

Selepas publikasi paket data tersebut di atas, nampaknya gerak Emas dan Perak akan diwarnai oleh intensitas dan volatilitas yang tinggi juga akan menentukan arah kedua logam mulia tersebut, setidaknya hingga sesi penutupan pasar New York