Equityworld Futures : Emiten telekomunikasi seluler, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) menjajaki pinjaman sebesar USD 240-350 juta untuk membiayai 60-70% investasi perseroan. Operator telekomunikasi milik Grup Sinar Mas tersebut berencana mengucurkan dana sebesar USD 400-500 juta untuk investasi selama dua tahun.  Pinjaman dengan bank asing itu masih dalam proses. Demikian disampaikan Direktur Keuangan Smartfren Antony Susilo di Jakarta, pada Senin (2/2).

Menurut Antony, Smartfren akan menggunakan dana investasi itu untuk mengganti teknologi code division multiple access (CDMA) ke teknologi 4G berbasis frequency division duplex-long term evolution (FDD-LTE).  Saat ini tengah bersinergi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) untuk mengimplementasikan teknologi 4G di frekuensi 800 MHz. Bakrie Telecom telah menggenggam 6% saham Smartfren. Hal ini merupakan konsekuensi dari kerja sama jaringan di antara kedua operator tersebut.  Bakrie Telecom mengambil 6% saham Smartfren dari salah satu pemegang saham mayoritas Smartfren, yakni PT Wahana Inti Nusantara.

Lebih lanjut, Antony menambahkan, perseroan berharap akan terjadi efisiensi operasional dan kinerja yang lebih maksimal dari hasil kerja sama dengan Bakrie Telecom. Perseroan berusaha meningkatkan pendapatan dan mempertahankan laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tetap positif.  Dalam perjanjian kolaborasi, jaringan Smartfren dan Bakrie Telecom akan digabungkan. Smartfren akan mendapatkan tambahan alokasi 5 MHz milik Bakrie Telecom. Namun, kedua perusahaan tetap menjadi dua entitas hukum yang berbeda alias tidak merger.

Di sisi lain, Presiden Direktur Bakrie Telecom Jastiro Abi mengatakan, dari hasil kolaborasi, perseroan diperkirakan mampu menghemat ongkos jaringan hingga 70%. Biaya tersebut masuk ke dalam biaya operasional perseroan. Ongkos jaringan dapat ditekan, karena kami tidak perlu lagi menyewa menara sebagai dampak dari aksi konsolidasi.

Untuk diketahui, saat ini, perseroan tengah berupaya merestrukturisasi utang. Dari dokumen Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), total tagihan utang Bakrie Telecom sekitar Rp 11,31 triliun. Utang tersebut termasuk utang senior wesel sebesar Rp 5,4 triliun.  Khusus utang wesel senior, Bakrie Telecom masih harus menghadapi proses hukum dari gugatan kubu bernama Ad Hoc Commitee. Gugatan tersebut diajukan oleh Universal Investment Advisory SA terhadap anak usaha Bakrie Telecom, yaitu Bakrie Telecom Pte di New York State Supreme Court, New York County (Manhattan).