EQUITY WORLD FUTURES – Kesadaran akan pentingnya investasi semakin tumbuh; jika dulu investasi dianggap hanya sebagai tindakan yang dilakukan orang kaya, kini semua kalangan sudah menyadari pentingnya investasi. Sayangnya, hal ini juga mendorong banyak orang meraih kesempatan untuk mengambil untung dengan mendirikan investasi yang aslinya adalah penipuan. Manajemen resiko yang baik pun diperlukan oleh para calon investor untuk memilih jenis investasi, terutama karena penjahat investasi saat ini sudah semakin canggih.

Kasus investasi bodong bukan hanya terjadi pada lembaga koperasi kecil atau perusahaan nasional; para investor emas dunia sempat dikejutkan dan bahkan dirugikan dengan skandal Asia Pacific Bullion dan The Gold Guarantee Malaysia, dua lembaga investasi emas bertaraf internasional Singapura yang ternyata kemudian terungkap sebagai lembaga investasi bodong. Pemimpin kedua lembaga tersebut, Lee Song Teck, melarikan diri dengan membawa keuntungan hasil investasi para trader emas.

Para penipu ini memberikan penawaran yang terbilang menggiurkan untuk nasabah, misalnya menerapkan harga jual emas yang jauh lebih besar dari harga pasar serta memberikan diskon untuk investor. Akan tetapi, cara ini juga bisa digunakan untuk melakukan skema money game. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa lembaga investasi palsu di Indonesia, misalnya PT GTIS yang sampai mencatut nama Dewan Syariah Nasional MUI. Di sinilah perlunya manajemen resiko yang baik bagi para investor.

 

Manajemen Resiko demi Menghindari Penipuan

Pengendalian jenis investasi yang beredar di Indonesia sebenarnya menuntut peran pemerintah juga dalam pengawasannya, apalagi karena kesadaran berinvestasi masyarakat Indonesia cenderung belum diikuti oleh kesadaran untuk edukasi diri mengenai jenis investasi itu sendiri. Banyak yang hanya tergiur pada keuntungan singkat semata, misalnya tergiur persentase suku bunga yang jauh lebih besar daripada yang ditawarkan deposito.

Hal ini bisa dilakukan dengan menetapkan sistem pengeluaran ijin yang lebih ketat untuk pendirian lembaga investasi serta pengawasan lebih ketat pada sistem operasional setiap lembaga investasi.Akan tetapi, apakah harus menunggu sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan baru masyarakat berhati-hati? Tentu saja tidak; dengan atau tanpa kebijakan pemerintah, masyarakat harus bisa mengedukasi diri sendiri soal manajemen resiko investasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendidik diri sendiri soal pengelolaan dana dan keikutsertaan dalam lembaga investasi.

Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari penipuan investasi:

  • Waspadai tawaran investasi dengan resiko rendah tapi imbalan tinggi. Dalam dunia investasi, semakin tinggi keuntungan yang diincar, semakin berat pula resiko yang harus diambil. Dalam saham, misalnya, resikonya sangat tinggi dan membutuhkan wawasan luas terhadap pasar, namun keuntungannya juga besar jika sudah berhasil.
  • Jangan percaya pada lembaga investasi yang menyatakan bahwa Anda bisa menarik kembali aset yang sudah Anda serahkan sebagai sarana berinvestasi dengan mudah, atau bahkan sampai menawarkan pembelian balik tanpa pengurangan nilai.
  • Waspadai investasi yang menawarkan bonus luar biasa besar tanpa menjelaskan resiko yang Anda harus hadapi untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Lembaga investasi penipu memerlukan iming-iming yang besar untuk merekrut banyak nasabah. Bagi mereka, yang penting kuantitas agar bisa melakukan skema money game sebelum merasa cukup dan kemudian kabur.
  • Jangan langsung percaya pada ajakan untuk berinvestasi dari orang yang Anda kenal, apalagi jika ajakan itu dilakukan dari mulut ke mulut dengan tawaran menarik. Para peserta investasi semacam ini memang biasanya didorong untuk mengajak orang lain dengan mengajak mereka langsung.

Hindari resiko penipuan investasi dengan melakukan manajemen resiko sendiri; jangan bergantung pada orang lain atau pemerintah untuk melakukan semuanya bagi Anda. Didiklah diri sendiri agar tak mudah tertipu dalam investasi.