Equityworld Futures : Pada perdagangan Selasa (26/5) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 18 poin menjadi Rp 13.205 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 13.187 per dolar AS.  Kurs rupiah berbalik arah ke area negatif setelah sempat tadi pagi ini bergerak menguat. Pelemahan rupiah mungkin karena mendapatkan sentimen dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen yang yakin kenaikan suku bunga acuan AS tahun ini.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 32 poin berkat penguatan saham-saham konsumer dan infrastruktur. Investor asing mencatat pembelian bersih.  Investor asing mulai memburu saham-saham yang harganya sudah terkena koreksi.

Mata uang dolar AS juga terdorong setelah data inflasi inti Amerika Serikat bulan April naik di atas estimasi.  Beberapa data ekonomi penting AS lainnya yang akan dirilis pada pekan ini akan menjadi penggerak pasar keuangan seperti data pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) April, data survei tingkat keyakinan konsumen Mei dan data penjualan rumah baru April.  Pasar akan mencermati data itu yang diprediksi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Hasil data AS yang negatif bisa menopang rupiah ke depannya.  Nilai tukar rupiah bergerak cukup stabil. Pemerintah yang tetap nyakin dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi cukup memberikan ketenangan bagi sebagian pelaku pasar uang.

Adanya pandangan dari lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia dengan outlook positif akan menjaga stabilitas mata uang rupiah.  Ke depan, peringkat Indonesia yang saat ini berada di posisi BB+ (double B plus) berpotensi naik cukup terbuka seiring dengan pemerintah yang terus fokus mendorong pertumbuhan perekonomian domestik.  Dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Selasa (26/5) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp 13.192 dibandingkan hari sebelumnya (25/5) pada level Rp 13.186.

Dari bursa saham, perdagangan Sesi I, IHSG melesat 52,945 poin (1,00%) ke level 5.341,307 berkat aksi beli selektif investor asing. Saham konsumer memimpin penguatan.  Hampir seluruh indeks sektoral bisa menguat, sektor konsumer naik paling tinggi. Saham lapis dua di sektor aneka industri terkena aksi jual jelang penutupan perdagangan.  Pada akhir perdagangan, Selasa (26/5), IHSG menguat 32,539 poin (0,62%) ke level 5.329,901. Sementara Indeks unggulan LQ45 naik 6,834 poin (0,74%) ke level 927,753.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini terpantau melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 132,537 miliar di seluruh pasar.

Tercatat perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 226.185 kali dengan volume 4,839 miliar lembar saham senilai Rp 4,859 triliun. Sebanyak 165 saham naik, 131 turun, dan 99 saham stagnan.  Bursa-bursa regional menutup perdagangan sore ini dengan kompak menguat. Pasar saham China masih menjadi yang tertinggi dengan penguatan lebih dari dua persen.

Peningkatan di pasar saham China ini didorong oleh rencana pemerintah menarik investasi asing senilai 1,9 triliun yuan demi mendorong pertumbuhan ekonomi.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 naik 23,71 poin (0,12%) ke level 20.437,48, Indeks Hang Seng menguat 257,03 poin (0,92%) ke level 28.249,86,  Indeks Komposit Shanghai melonjak 97,10 poin (2,02%) ke level 4.910,90, dan  Indeks Straits Times bertambah 1,93 poin (0,06%) ke level 3.462,78.