Equityworld Futures Surabaya – Hening Paradigma adalah peraih 4 medali di Sea Games olahraga paralayang atau fly sky. Dengan keahliannya itu, ia membuka usaha penyewaan paralayang di kawasan Puncak, Bogor.

Untuk memulai bisnis ini dibutuhkan kocek yang tak sedikit. Untuk mengawalinya ia harus menginvestasikan dana untuk pembelian alat sebesar 100 juta. Dengan modal sebesar itu tak banyak yang didapatkan, hanya dapat satu paket komplit saja. “Modalnya 100 juta rupiah, sudah dapat peralatan satu unit paralayang lengkap,” katanya.
Tapi menurutnya yang mahal justru bukan terletak di peralatan melainkan di pendidikan pilotnya. Ia juga menargetkan, untuk menjadi pilot setidaknya ia pernah mengalami 40 kali terbang. Saat ini, di Fly Sky Indonesia baru memiliki dua orang pilot terlatih. Untuk kebutuhan koordinasi di udara dengan menggunakan HT dan GPS.
Alat-alat bisnisnya itu ia harus mendatangkannya dari Italia. Ia masih impor dari Italia. Kalau paramotor harganya pun lebih tinggi. Mesinnya Rp100 juta dengan jenis mesin 23 PK dan bobot 20 kilogram, belum lagi ditambah parasut seharga Rp30 juta rupiah.
Karena menggunakan parasut, untuk terbang tidak harus di landasan. Satu lapangan sudah bisa diterbangkan. Lama terbang sekitar tiga jam dengan kecepatan rata-rata 20 kilometer perjam. Itu pun dengan catatan, angin harus stabil.
Ia mengaku, saat ini konsumen terbesarnya berasal dari perusahaan dan partai politik. Mengenai harga ia menarifkan berbeda antara perusahaan atau individu dan parpol. Untuk merasakan sensasi terbang dengan paramotor atau paralayang hanya cukup dengan uang lima juta rupiah perjam.
“Itu kalau perusahaan non partai. Kalau parpol perjamnya saya kenakan tarif 10 juta rupiah. Kalau parpol biasanya menyewa untuk pengumpulan massa. Kami bisa bergerak dengan mulai take off di Senayan terus bergerak ke Sarinah, Pancoran dan Taman Anggrek,” kilahnya.
Terkait jumlah paramotor, kini Hening sudah mengoperasikan sebanyak empat mesin. Dan untuk menyewa paramotor miliknya caranya tak sulit. Cukup menghubunginya lalu lihat situasi cuaca apa memungkinkan terbang atau tidak. Acaranya bisa diatur sedemikian rupa, dalam penerbangan itu akan menebar merchandise atau dengan cara lain.
“Karena paramotor berbeda dengan paralayang, saat mendarat risiko baling-baling patah itu besar. Kalau tidak menggunakan pilot kita, kalau itu terjadi ya harus diganti,” tandasnya.
Juga penting untuk diingat, dalam bisnis ini perizinan pun harus diurus dengan baik. Dan wilayah terbang tidak harus di pulau Jawa saja, peralatannya bisa di bawa ke luar Jawa. “Kami pun sudah pernah terbang di Papua, Palembang, Palu dan daerah lainnya. Kalau ada yang mau terbang di luar Jawa, alatnya bisa dibungkus dan ditenteng naik pesawat. Berat parasut hanya 6 kilogram,” katanya.
Dia mengaku, hobinya terbang di udara sejak tahun 2000 hanya untuk senang-senang saja. Karena ketika ia terbang, semua mata akan tertuju kepadanya.
“Apa pun yang diterbangkan, pasti akan banyak dilihat orang. Saya sering terbang dan bagi-bagi permen dari atas. Responnya luar biasa. Karena itu olahraga ini saya jadikan sebagai industri yang dikerjakan secara profesional dengan konsep flying billboard,” katanya.