Equityworld Futures Surabaya – Tahun 2015 bukan merupakan tahun yang baik bagi mata uang rupiah. Di kuartal III-2015 saja, rupiah terhadap dollar AS secara rata-rata melemah sebesar 5,35 persen. Pada 31 Desember 2015 lalu, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 13.795 per dollar AS.

Namun, pelemahan nilai tukar terhadap dollar AS tidak hanya dialami oleh mata uang garuda. Bahkan, ada beberapa mata uang dunia yang mengalami pelemahan lebih dalam dibandingkan rupiah.

Berikut daftar 5 mata uang dengan kinerja paling jeblok pada tahun 2015 lalu.
1. Peso Argentina
Mata uang peso Argentina melemah 34,6 persen terhadap dollar AS selama 2015, menjadikannya mata uang dengan performa terburuk di dunia tahun lalu. Pemerintah baru Argentina memberlakukan kebijakan moneter pada Desember 2015 yang membuat peso bergerak bebas.

Pemerintah Argentina kini mengharapkan lebih banyak investasi asing masuk ke negara itu. Ekonomi Argentina menderita kesalahan pengelolaan ekonomi selama bertahun-tahun dan amat membutuhkan dana asing.

2. Real Brazil
Mata uang Brazil, real, terperosok 32,9 persen terhadap dollar AS do tahun 2015. Brazil begitu berganting pada ekspor pertanian dan komoditas mentah, seperti minyak, gula, kopi, dan metal. Sayangnya, harga komoditas jatuh, yang memukul sektor keuangan Brazil.

Masalah korupsi juga menampar ekonomi Brazil. Skandal yang melibatkan raksasa minyak Brazil, Petrobras, melebar ke sektor tertinggi bisnis dan politik, yang akhirnya menggoyang negara tersebut.

3. Rand Afrika Selatan
Mata uang rand Afrika Selatan melemah 25 persen selama 2015. Jatuhnya harga komoditas memukul banyak perusahaan besar Afrika Selatan. 50 persen pendapatan valas negara itu disumbang sektor tambang, akhirnya defisit transaksi berjalan membengkak.

Ekonomi Afrika Selatan pun melemah lebih dalam setelah goncangan politik pada Desember 2015. Dalam kurang dari sepekan saja, negara itu punya tiga orang menteri keuangan.

4. Lira Turki
Mata uang Turki, lira, melemah 20 persen terhadap dollar AS tahun lalu. Ekonomi Turki menderita akibat kombinasi ketidakpastian politik dan memburuknya situasi keamanan di negara tetangga, Suriah.

Turki juga merupakan salah satu negara yang terpukul akibat keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan karena dapat memdorong biaya utang eksternal. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi Turki hanya tumbuh 3,6 persen di 2016, jauh di bawah capaian 9 persen di 2010 dan 2011.

5. Rubel Rusia
2015 tahun yang amat buruk bagi Rusia, karena mata uang Rubel melemah 17 persen. Selain itu, pendapatan negara dari minyak jatuh dan ekonomi Rusia masuk ke dalam periode resesi yang dalam.

Presiden Vladimir Putin menyatakan krisis ekonomi Rusia telah usai, namun indikator ekonomi menunjukkan sebaliknya, yakni pertumbuhan ekonomi, produksi industri, dan penjualan ritel tetap menurun. Namun, kondisi rubel di 2015 lebih baik ketimbang 2014, di mana pelemahan mencapai 41 persen terhadap dollar AS.